Saturday, April 27, 2013

Sean Covey: “Tantangannya, Disiplin”

http://swa.co.id/business-strategy/sean-covey-tantangannya-disiplin
Denoan Rinaldi

Stephen Covey memang telah tiada. Namun, sang putra, Sean Covey, tampaknya telah siap untuk terus mengibarkan nama Covey di jagat bisnis dengan tawaran konsep serta pendekatan praktis yang dibutuhkan kalangan korporasi. SWA berkesempatan mewawancarai Sean ketika meluncurkan buku The 4 Disciplines of Execution versi bahasa Indonesia, 12 Desember 2012. Berikut petikan wawancara dengan pria yang termasuk “New York Times best selling authors” ini.


Bagaimana sejarah lahirnya konsep 4 Discipline of Executionatau 4DX?

Berdasarkan survei Franklin Covey terhadap para CEO, ternyata tantangan nomor satu dalam menjalankan strategi adalah eksekusi.

Apa yang kemudian dilakukan setelah tahu hasil survei itu?

Kami mempelajari mengapa eksekusi gagal, apa yang membuat eksekusi berjalan dan berhasil.Dan, setelah lebih dari satu dekade, kami berhasil mengungkap “kode rahasia” kekuatan eksekusi yang kemudian menghasilkan 4DX. Jadi, 4DX merupakan formula menyelesaikan segala sesuatu di dalam perusahaan, khususnya mengenai aturan/ hukum dalam mengeksekusi. Konsep 4DX diperkenalkan sejak delapan tahun lalu, dan hingga kini kami masih terus memperbaikinya



Apa sih empat hal dalam 4DX?

Pertama, fokus. Ini hal yang mudah dan sederhana, tetapi tak ada perusahaan yang melakukannya. Kebanyakan perusahaan memiliki banyak target, 15 target misalnya. Atau, target selalu berubah. Hal pertama yang kami ajarkan adalah menetapkan hanya satu atau dua target dan membuatnya sangat jelas yang bisa dibuat formulanya.

Kedua,act on the lead measures. Misalnya, jika ingin melakukan diet, lag measure-nya adalah kegemukan yang akan dikurangi danlead measures-nya adalah pola makan dan olah raga. Dalam bisnis, kebanyakan perusahaan justru fokus pada lag measures.


Ketiga, keep a compelling scoreboard. Setiap orang di perusahaan perlu tahu mengenai posisinya, apakah menang atau kalah dalam persaingan. Di Marriot, bahkan pelayan memilikiscoreboard sehingga mereka bisa mengetahui kinerja mereka, apakah sesuai dengan target atau belum.


Keempat,create a cadence of accountability, misalnya melakukan pelaporan secara reguler atau rapat satu kali seminggu untuk mempertanggungjawabkan apa yang tengah dilakukan untuk mencapai targetnya.


Apa kekuatan dan kelebihan 4DX dibandingkan konsep manajemen lainnya?

Saya pikir tidak ada yang seperti 4DX di luar sana. Banyak buku membahas eksekusi, tetapi tidak ada yang seperti ini, ha-ha- ha... Kami pikir 4DX merupakan metode yang sudah terbukti untuk mengeksekusi. Salah satunya, Hotel Marriot.

Butuh berapa lama untuk mengimplementasikan 4DX?

Tiga bulan hinggasetahun untuk mendapatkan hasil maksimal.

Kapan perusahaan perlu menerapkan 4DX?

Tidak ada keharusan mengenai kapan mengimplementasikan 4DX, apakah saat stagnan atau saat melejit. Idenya cukup sederhana:setiap organisasi pasti memiliki tujuan. Namun, permasalahan atau tantangannya adalah bagaimana mencapai targetnya secara konsisten.

Apa saja kesulitan saat menerapkan 4DX?

Kata kedua dari judul buku ini:disiplin!

Lalu, apa saja yang menyebabkan kegagalan?

Banyak yang tidak fokus. Misalnya, seorang manajer yang menganggap dirinya kompeten dan ingin banyak melakukan sesuatu. Semua orang ingin melakukan banyak hal. Itu yang membuat orang sulit fokus. Lead measures juga hal yang sulit ditentukan. Mengenai scoreboard, terlalu banyak hal dalam scoreboard yang akan menyulitkan orang mengukur kinerja dalam hubungannya dengan mencapai target mereka.

Penerapan 4DX sering hanya berhasil pada awalnya. Bagaimana menjaga agar momentum 4DX bisa terus dijaga?

Mudah menjaganya. Kami melakukannya dengan menyertifikasi banyak manajer di dalam perusahaan sehingga perusahaan dapat menjalankannya sendiri. Saya pikir ketika Anda mengetahui dan disertifikasi mengenai 4DX,Anda tidak akan pernah sama dengan sebelumnya. Jika sebelumnya Anda memiliki banyak target, setelah mengenal 4DX, Anda akan tahu target spesifik anda. Anda juga tidak akan kembali menggunakan scoreboardyang rumit.(*)

Mengintip 3 Trik Social Marketing Para Big Brand

http://the-marketeers.com/archives/mengintip-3-trik-social-marketing-para-top-brand.html


peeping Mengintip 3 Trik Social Marketing Para Big Brand



Apakah anda mem-follow fan page sebuah brand? Di era teknologi seperti sekarang, tidak sedikit brand yang menggunakan media sosial dan aplikasi digital untuk berhubungan dengan konsumennya. Tidak hanya dilakukan brand besar, hal ini juga dipraktekkan oleh start up yang baru menginjakkan kaki di dunia bisnis. Hasilnya pun terbukti. Efektifitas media sosial dalam me-marketing-kan merek dapat dilihat dari banyaknya follower dan pengikut fan page brand tertentu.
Dalam forum diskusi American Express yang dikutip oleh Mashable, terdapat tiga trik yang digunakan oleh sebuah brand untuk menggaet konsumen seperti anda, yaitu menyambungkan diri dengan salah satu bidang yang anda gemari, menghibur dengan personality yang akrab, dan yang terakhir menyediakan informasi yang anda anggap menarik dan penting.
Passion Brands
Brand seperti Red Bull, Nike, Adidas, dan Whole Foods adalah brand-brand yang berusaha keras untuk menunjukkan passion yang mereka miliki kepada konsumen. Tidak hanya itu, brand-brand ini juga mengajak dan mengasosiasikan diri dengan core business yang mereka geluti. Red Bull misalnya, menggunakan imej pemuda yang menantang resiko dengan melakukan aktivitas ourdoor yang ekstrem. Halaman Facebooknya pun bergambar seorang pemuda yang sedang beraksi di atas papan snowboard.
Personality Brands
Contoh brand yang menggunakan pendekatan personality adalah Oreo. Bersama dengan agency 360i, alih-alih mengaitkan diri dengan sebuah passion Oreo lebih memilih untuk menggunakan personality dalam aktivitas media sosialnya. Hal ini nampaknya berhasil. Permainan visual Orea dalam membentuk kata-kata unik dengan menggunakan cream produknya berhasil menggaet 31 juta penggemar di Faceboook. Keceriaan, kegembiraan, senyum, dan kreatifitas adalah asosiasi yang dibangun Orea untuk berinteraksi dengan konsumen melalui media sosial.
Transparent Brands
Dalam menggunakan trik ini, sebuah brand biasanya menunjukkan apa yang menjadi aktivitas operasional mereka sehari-hari kepada publik melalui media sosial. Sebut saja IBM. Perusahaan teknologi ini menyediakan hosting untuk 32.000 blog individual dari para pekerjanya.
Metode ini nampaknya menjadi cara umum yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan teknologi. Brand lain seperti Intel, Google, dan Microsoft juga menerapkan hal yang serupa meski Apple menjadi satu-satunya pengecualian. Strategi ini berhasil untuk menggaet konsumen yang menginginkan informasi tertentu meski tidak harus benar-benar cinta (passionate) terhadap hal itu. Ini yang membedakan transparent brand dari passion brand. Hal yang dilakukan passion brand adalah membangun asosiasi merek meski tidak benar-benar dilakukan di dunia nyata. Sebagai contoh, Nike membuat perlengkapan atletik, bukan olahraga itu sendiri, sementara Ford membuat mobil yang juga dikendarai konsumen sehari-hari.

Wednesday, December 26, 2012

Ini Tips Jadi Pengusaha ala Dahlan Iskan

http://finance.detik.com/read/2012/12/25/163121/2126395/4/ini-tips-jadi-pengusaha-ala-dahlan-iskan?fb_action_ids=4327326105586

Wiji Nurhayat - detikfinance
Selasa, 25/12/2012 16:31 WIB


Yogyakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan memberikan beberapa tips menarik menjadi seorang wirausaha sukses. Hal ini Ia berikan pada launching and talkshow 1000 wirausaha mandiri di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Selasa (25/12/2012).

"Ada tiga tips yang harus anda lakukan," kata Dahlan singkat yang menggunakan baju kemeja putih, celana hitam dan sepatu kets di UGM.

Tips pertama yang harus dilakukan menurut Dahlan adalah jangan percaya kalo pengusaha itu lahir karena darah pengusaha. Dahlan memberi contoh Ia sendiri dan teladan orang Tionghoa yang saat ini hampir menguasai perdagangan di seluruh dunia.

"Orang Tionghoa mereka hanya ketularan jadi pengusaha bukan berdasarkan keturunan.
Juga saya ayah buruh tani, ibu buruh batik saya menjadi seorang pengusaha. Jadi siapapun jadi pengusaha," jelas Dahlan.

Tips kedua dari Dahlan adalah kapan harus menjadi pengusaha. Menurut Dahlan usia muda sangat cocok untuk memulai dunia usaha. Dan tips ketiga adalah jangan memaksakan untuk cepat-cepat sukses.

"Pengusaha harus pernah ditipu dan mengalami kesulitan. Makanya dari muda jangan sudah tua menjadi pengusaha. Lihat dari kita mulai usaha," tandasnya.

Monday, December 17, 2012

Lebih Produktif Menjelang Deadline?

http://lipsus.kompas.com/blibli/



Ide cemerlang baru keluar on last minute deadline? Atau saat “tertekan” lebih produktif ? Bagi Anda yang sering mengalami kejadian seperti ini tidak perlu malu untuk mengacungkan tangan, tentunya dengan syarat, hasil akhir yang tetap memuaskan. 

Addicted to deadline! Sudah menjadi rahasia umum terutama untuk Anda yang bekerja di bidang industri kreatif, detik- detik akhir tenggat waktu adalah saat yang paling krusial. Sebuah momen dimana konsentrasi penuh tercurah, bercampur dengan perasaan excitement dan passion. Semuanya semata-mata untuk memberikan yang terbaik bagi pekerjaan yang  telah menjadi tanggung jawab.

Dari sisi time management, tentu ini menjadi sebuah “pekerjaan rumah” yang harus Anda benahi. Melanggar semua tahapan pre & post planning kadang bisa mengakibatkan risiko kerugian.

Sisi baiknya adalah tingkat kemampuan Anda untuk berpikir, berkreasi dan mengambil keputusan akan bertambah tajam. Dan bukan tidak mungkin hasil akhir yang keluar akan lebih hebat daripada yang Anda bayangkan.

If you've got stuck in a moment, bisa jadi hal tersebut karena Anda kurang memberi dorongan yang lebih pada diri Anda sendiri. Faktor luar seperti deadline memang bisa menjadi perangsang bagi Anda untuk mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik, namun jika Anda mampu mengendalikan kreativitas dan performa kerja yang tinggi tanpa harus bergantung dengan datangnya deadline, Anda akan menikmati hasil yang luar biasa Amazing!