Sunday, June 22, 2014

Communications Lessons in the Prabowo Campaign

https://www.linkedin.com/today/post/article/20140623040357-3822607-communications-lessons-in-the-prabowo-campaign?trk=mp-edit-rr-posts&_mSplash=1

Regional Manager - Southeast Asia at blueVisions



Right now the biggest opponent of Prabowo isn't Jokowi but himself.
His strong nationalistic rhetoric isn't resonating with the younger voters as they know that it isn't the foreign investors that's screwing the country but the elected and appointed officials.
"Corruptors will have no place in Indonesia," Prabowo yelled, while flanked by Suryadharma and Bakrie.
Isn't Suryadharma being pursued by the highly trusted KPK for his alleged role in the graft case of the haj funds?
And then there's Bakrie.
Prabowo recently attacked Jokowi saying: "We need to elect a leader who is not a puppet. A leader who cannot be bribed or influenced by foreign entities..."
Totally misplaced comms strat.
Jokowi was successful as a mayor with no taint of foreign influence. As a popular governor, the only allegation of graft is from the procurement of defective buses that's weak at best since it targets only the governor yet does not include the mayor, budget control management, planning and control team, which stands to reason why KPK isn't pursuing anything.
Where's the influence of foreign entity/entities?
If Prabowo continues to open this can of worms, what will be revealed are the accomplishments of Jokowi as a public servant while Prabowo shows how he's never held an elected position.
While Prabowo engages in high level speeches, Jokowi is out jogging with the masses.
How could Prabowo's team blow up their momentum so much?

Strategic Communication Tips

1. Avoid Mudslinging - If you don't have factual evidence, fact-checks, complete and sustainable plan, do not engage in mudslinging. A taint of veiled rumor can come from some quarters to instill doubt but it should never come from you unless you have credible data. The public will soon tire of baseless accusations and the cross-hair will be brought back to you.
2. Stick To The Message - All politicians are elected based on one premise: how to sell Hope. Your Action Plan may be well and good but if you can't simplify the message, reiterate the message, and reinforce it at all times, people will be confused where you stand. Look at tobacco industry, they've never veered away from their message that it's cool to smoke despite all the pronouncements that they will kill you. This is the reason why no government on earth has managed to beat them in delivering their message. And they hire professional advertisers, too, while governments continue to use their student council employees.
3. Optics - Like it or not, as a politician, you will be judged by a larger number of people based on your visual message rather than your rhetoric. Hitler, Mussolini, George W. Bush, Bill Clinton -- regardless whether or not you like them -- were able to sell to their countrymen their message that emanated from their perceived power. Hitler mesmerized his entire country to send their children to engage in horrific acts. Mussolini turned a small country into a fascist state. Bush sold to the world Weapons of Mass "Distraction", evil axis, and other jazzed up words. Clinton, well, "I did not have sexual relations with that woman." Let's admit it, how people see you is a message that you will continually either reinforce or change. How are you doing that?
Always do an internal check on the visual and verbal messages you are projecting or saying. Once you've identified it, stick with it and sell it. You can repackage it, rehash it, enhance it, but never veer away from it.
That's how you shape people's minds. That's how you win an election.

Saturday, June 7, 2014

Rhenald Kasali: Cara Jokowi membangun kepercayaan

http://nasional.kontan.co.id/news/rhenald-kasali-cara-jokowi-membangun-kepercayaan?fb_action_ids=10201264594656977&fb_action_types=og.likes&fb_ref=single_news
Oleh Dikky Setiawan

Rhenald Kasali: Cara Jokowi membangun kepercayaan

Rhenald Kasali (Pakar Manajemen)
JAKARTA. Tak dapat dipungkiri, perubahan lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Dari ketika dijalankan, Anda bukan hanya berhadapan dengan kaum resisten, melainkan juga mereka yang bakal kalah pamor.
Ya, kalau Anda gigih dan berhasil menaklukkan resistensi, maka akan ada kelompok-kelompok lain yang menjadi terlihat “tidak bekerja”, “asal bunyi”, atau “provokator”. Seperti kata Geoge Carlin, mereka menggenggam ayat yang bunyinya begini: “Jika engkau tak bisa menaklukannya, buatlah orang lain membencinya.” Mereka berkampanye agar tidak percaya pada apa yang mereka lihat.
Jadi inti dari perubahan sebenarnya: Mendapatkan kepercayaan. Obat resistensi itu, pertama-tama adalah kepercayaan. Jujur dan berani adalah satu hal. Tapi ini tidak cukup bila pemimpin gagal memberikan hopemelalui kemenangan-kemenangan kecil di tahun pertamanya, Diperlukan pendekatan khusus untuk mendapatkan kepercayaan. Sebab, provokator juga hanya "mati" di tangan mereka yang sangat dipercaya publik.
Mengubah resistensi itu sendiri ibarat membuka hati manusia yang terluka. Kita tak bisa “menjebol batin” mereka yang terluka untuk membersihkan nanah-nanahnya, kecuali mereka mengizinkannya. Nah, "minta izin membuka hati" ini ada caranya: terlalu lembut tidak tembus, kekerasan hanya membuat mereka jatuh ke tangan para penyamun.
Demikian juga dalam merespons para penyamun yang menghalangi perubahan, selalu ada psikologinya. Nan S Russel, dalam Psychology Today (2012) memberikan tipsnya: tetap respek, hindari komunikasi membalas dengan menyalahkan, sadar diri, jauhkan arogansi, jaga kehormatan dan "go beyond yourself" (utamakan kontribusi pada publik).

Diplomasi makan malam
Jauh sebelum Jokowi memimpin Jakarta, saya pernah diberitahu pendekatan yang digunakan masyarakat Tionghoa dalam mengatasi berbagai masalah. Semua urusan bisa diselesaikan di meja makan. Dan kalau perut sudah disentuh, hati manusia akan adem. Tetapi, di Tokyo, ternyata juga sama. Bahkan pekerja-pekerja Jepang hingga larut malam masih menjinjing tas kerja dan jas hitamnya bersama atasan mereka di bar-bar di sepanjang daerah Ginza atau Shinjuku. Dalam ocehan yang terucap, mereka mengatakan “kita menanggung sama-sama.”
Saat diserang calo tanah dan warga yang tak mau pindah ke rumah susun yang telah disediakan (dari area waduk Ria-Rio), kita membaca, Jokowi ternyata juga melakukan cara yang sama. Prosesnya begitu cepat. Bahkan jauh lebih cepat dari yang ia lakukan di Solo saat memindahkan PKL dari tengah kota.
“Saat itu saya ajak PKL makan siang-makan malam 54 kali,” ujarnya. “Setelah itu baru saya sampaikan bahwa mereka akan dipindah. Dan mereka diam semua. Saya katakan, kalau begitu setuju yaaa...dan mereka menjawab, iya paak..."
Ia memberikan refleksinya sebagai berikut:
Pertama, PKL adalah businessman, sama seperti yang lainnya. Mereka itu pasti berhitung untung ruginya.
Kedua, pada awalnya, setiap diundang makan malam ke balai kota mereka tahu bahwa mereka akan digusur, karena itulah mereka datang dengan LSM dan advokat-advokat. "Karena itu saya tak bicara apa-apa, saya hanya mengajak mereka makan malam meski mereka kecewa tak ada omong-omong, " ujarnya.
Ketiga, mereka khawatir, di lokasi baru bisnis mereka akan rugi atau diperlakukan tidak adil.
Di Jakarta, saat menghadapi warga-warga yang tinggal di bawah waduk Ria-Rio, Jokowi mengatakan, “Saya tak ingin berhadap-hadapan dengan rakyat, rakyat tak boleh ditindas.” Itu sebabnya, ia memilih melayani mereka di meja makan, dan mereka pulang dengan enteng. Jokowi benar, jika perubahan membutuhkan koalisi perubahan, maka berkoalisilah dengan rakyat.

Diplomasi Sentuhan
Blusukan adalah satu hal, tetapi di balik branding Jokowi itu ada diplomasi sentuhan yang luput dari perhatian para elit. Jangan lupa setelah Gen C (Connected Generation), kita tengah menghadapi Gen T (Touch Generation).
Bila mesin saja baru terlihat smart kalau disentuh, apalagi hati manusia. Rakyat yang selalu menjadi korban dalam perubahan, merindukan pemimpin-pemimpin yang tak berjarak, yang bisa mereka sentuh. Saya ingin menceritakan kejadian ini.
Suatu ketika Fadel Muhammad bercerita saat ia menemani kandidat cagub DKI dari Partai Golkar yang datang ke sebuah masjid di daerah Kwitang dengan kawalan foreiders. Pedagang di jalan harus minggir, dan cagub bertemu Habib sebentar, lalu pergi. Setelah itu datanglah cagubincumbent. Kali ini bukan hanya foreiders, melainkan juga camat, lurah, dan hansip sehingga semua PKL tak bisa berjualan. Jalan raya tiba-tiba berubah menjadi lengang dan benar-benar bersih.
Lantas bagaimana saat Jokowi datang? Ia datang tanpa pengawal, menyalami pedagang dan peziarah di sepanjang jalan, sehingga agak lama baru sampai di pelataran masjid. Peziarah terkesima karena Jokowi sama seperti mereka, berpakaian seperti rakyat biasa, tak berjarak. Pemimpin yang tak berjarak menyentuh tangan dan pundak rakyatnya, sedangkan pemimpin yang berjarak justru menghindarinya. Bagi mereka blusukan hanyalah pencitraan, bukan sentuhan hati. Padahal di situ ada pertautan kepercayaan.
Jadi, kepercayaanlah dasar dari setiap karya perubahan. Dan pemimpin yang pandai akan memisahkan ilalang dari padi-padi yang harus dipelihara agar menghasilkan buah. Inilah tugas penting para pembuat perubahan di tengah-tengah “low trust” atau bahkan “a distrust society” .
Maka, daripada menjegal Jokowi, mengapa tidak bergabung saja dan salami dia sebagai role model. Kalau Anda cinta perubahan, orang-orang seperti ini justru harus diberi apresiasi. Seperti kata Jim Henson, "if you can not beat them, joint them." (Kompas.com)