Saturday, January 21, 2012

Kesehatan Karyawan Menjadi Prioritas

http://www.research.marketing.co.id/2011/10/07/kesehatan-karyawan-menjadi-prioritas/


Survei Towers Watson menemukan sebagian besar organisasi multinasional memandang kesehatan karyawan sebagai prioritas yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Guna menghadapi biaya kesehatan yang meningkat dan kekhawatiran mengenai kesehatan karyawan, mayoritas organisasi multinasional berencana menempatkan skema kesehatan karyawan dan kesejahteraan karyawan mereka secara keseluruhan sebagai prioritas yang lebih tinggi, dalam beberapa tahun ke depan. Begitulah garis besar hasil survei yang dilakukan oleh Towers Watson—sebuah perusahan global servis profesional—terhadap 149 perusahaan multinasional yang mewakili 5,2 juta karyawan di 37 negara, termasuk negara maju dan negara berkembang, di seluruh dunia.
Berdasarkan survei tersebut, 75% responden menyatakan bahwa kesehatan karyawan akan lebih menjadi prioritas pada tahun 2011 dan 2012, sementara 87% akan melakukan hal yang sama dalam tiga hingga lima tahun mendatang—di tahun 2013–2015.
Meskipun demikian, hanya 33% dari responden mengaku telah memiliki strategi kesehatan global (naik dari 26% dibandingkan hasil survei tahun lalu); 47% responden menyatakan berencana mengadopsi strategi tersebut dalam satu hingga dua tahun mendatang; sementara 21% responden mengungkapkan tidak memiliki rencana untuk meningkatkan strategi global kesehatan karyawannya (gambar 2). Organisasi multinasional Asia-Pasifik memiliki risiko tertinggal; hanya 23% dari organisasi multinasional yang memiliki headquarter di Asia-Pasifik memiliki strategi kesehatan global.

Andrew Heard, Managing Director Asia Pacific Benefits Towers Watson, menyatakan, “Perawatan pencegahan masih merupakan hal yang baru mulai tumbuh di Asia-Pasifik. Dalam sejarah, perusahaan-perusahaan Asia telah mengadopsi langkah yang relatif perlahan dalam menangani kesehatan karyawan. Sebagai contoh, mereka mengimplementasikan program pemeriksaan risiko kesehatan, tetapi tidak menindaklanjuti dengan strategi jangka panjang. Tidak heran jika usaha-usaha ini mencapai kesuksesan yang tidak biasa. Walau begitu, dengan organisasi multinasional di sekitarnya mulai mengatasi masalah kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan, perusahaan Asia diprediksikan akan mengikuti tren ini.”
Hal tersebut serupa dengan keadaan di Indonesia. “Perusahaan-perusahaan di sini juga sudah melakukan screening kesehatan, tapi belum ada follow up. Itu pun berlaku di perusahaan yang tergolong perusahaan global, masih jarang di perusahaan lokal. Biasanya mereka bergerak di bidang oil & gas dan consumer goods,” kata I Gede Eka Sarmaja, Director of Benefits Indonesia Towers Watson.
Tujuan dan Hambatan
Alasan organisasi multinasional memberikan penekanan lebih besar terhadap strategi kesehatan karyawan berbeda-beda, berdasarkan wilayah operasinya. Ketika diminta memberikan tiga tujuan yang paling penting dari strategi kesehatan mereka, secara global, lebih dari separuh (54%) responden menjawab strategi kesehatan mereka merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan karyawan, ketahanan tubuh, serta manajemen stres. Di antara responden Asia-Pasifik, 62% memilih penghargaan yang kompetitif sebagai satu dari tiga tujuan paling penting (gambar 4). Hal tersebut mencerminkan tingginya kompetisi dalam pasar tenaga kerja di sebagian besar wilayah.
“Bersamaan dengan bisnis yang terus menarik perusahaan multinasional top di seluruh dunia dan bisnis lokal yang tumbuh dan bersaing di area global, banyak negara di Asia mengalami peningkatan tajam dalam permintaan tenaga kerja,” ujar Heard. Lanjut dia, dalam konteks ini, program-program kesehatan merupakan hal yang membedakan pemberi tenaga kerja yang baik, dan tidak mengherankan jika perusahaan-perusahaan di Asia memandang program kesehatan mereka sebagai cara untuk menarik dan mempertahankan karyawan-karyawan unggulan/paling berbakat.
Selain itu, biaya juga masih merupakan faktor penghambat dalam strategi kesehatan karyawan: 52% dari seluruh responden dan 42% dari responden Asia-Pasifik menilai pengendalian peningkatan biaya kesehatan sebagai objektif strategi kesehatan global mereka (gambar 4).
Pada umumnya, perusahaan multinasional di Asia kesulitan dalam membuat bisnis untuk membangun strategi kesehatan global—67% dari responden Asia-Pasifik menyatakan bahwa kesehatan global bukan prioritas saat ini. Seperti wilayah sekitar lainnya, perusahaan multinasional Asia-Pasifik juga kesulitan dengan kurangnya sumber daya, termasuk anggaran dan staf. Survei juga mencatat bahwa 44% dari perusahaan multinasional Asia-Pasifik—persentase tertinggi dari semua wilayah sekitarnya—mengatakan bahwa strategi kesehatan global mereka tidak dikomunikasikan sama sekali, atau hanya dikomunikasikan sebagian kecil kepada para pemimpin regional atau lokal.
“Data yang baik, penerapan yang terbukti, serta komunikasi yang kuat kepada para pemimpin regional dan lokal penting untuk menunjukkan kasus bisnis di balik strategi kesehatan global dan mendapatkan persetujuan dari pemimpin senior. Persetujuan tersebut kemudian menjamin bahwa strategi kesehatan memainkan peran yang tepat dalam organisasi keseluruhan dan program reward ini berkelanjutan,” kata Heard. Dia menambahkan bahwa hambatan yang teridentifikasi oleh perusahaan multinasional Asia-Pasifik dalam survei—termasuk kurangnya data, kurangnya sumber daya, dan komunikasi yang buruk—akan sulit untuk diatasi tanpa strategi perspektif yang luas.
Dalam tiga tahun ke depan, perusahaan multinasional akan semakin bergantung pada peraturan global untuk program manfaat perawatan kesehatan mereka. Pengelolaan data, dukungan pihak ketiga, dan penawaran program pencegahan dan kesehatan adalah bagian yang kemungkinan besar muncul di bawah beberapa jenis pemerintahan global di organisasi responden.
Bagaimana dengan di Indonesia? Mungkin sudah saatnya perusahaan-perusahaan lokal di Indonesia lebih serius mempertimbangkan untuk mengadopsi strategi kesehatan global bagi karyawan di perusahaan mereka untuk mengoptimalkan manfaat dana perawatan kesehatan, mengontrol biaya yang dikeluarkan, juga meningkatkan produktivitas karyawan. (www.marketing.co.id/Hanantiwi Adityasari)

No comments: