Saturday, April 27, 2013

Mengintip 3 Trik Social Marketing Para Big Brand

http://the-marketeers.com/archives/mengintip-3-trik-social-marketing-para-top-brand.html


peeping Mengintip 3 Trik Social Marketing Para Big Brand



Apakah anda mem-follow fan page sebuah brand? Di era teknologi seperti sekarang, tidak sedikit brand yang menggunakan media sosial dan aplikasi digital untuk berhubungan dengan konsumennya. Tidak hanya dilakukan brand besar, hal ini juga dipraktekkan oleh start up yang baru menginjakkan kaki di dunia bisnis. Hasilnya pun terbukti. Efektifitas media sosial dalam me-marketing-kan merek dapat dilihat dari banyaknya follower dan pengikut fan page brand tertentu.
Dalam forum diskusi American Express yang dikutip oleh Mashable, terdapat tiga trik yang digunakan oleh sebuah brand untuk menggaet konsumen seperti anda, yaitu menyambungkan diri dengan salah satu bidang yang anda gemari, menghibur dengan personality yang akrab, dan yang terakhir menyediakan informasi yang anda anggap menarik dan penting.
Passion Brands
Brand seperti Red Bull, Nike, Adidas, dan Whole Foods adalah brand-brand yang berusaha keras untuk menunjukkan passion yang mereka miliki kepada konsumen. Tidak hanya itu, brand-brand ini juga mengajak dan mengasosiasikan diri dengan core business yang mereka geluti. Red Bull misalnya, menggunakan imej pemuda yang menantang resiko dengan melakukan aktivitas ourdoor yang ekstrem. Halaman Facebooknya pun bergambar seorang pemuda yang sedang beraksi di atas papan snowboard.
Personality Brands
Contoh brand yang menggunakan pendekatan personality adalah Oreo. Bersama dengan agency 360i, alih-alih mengaitkan diri dengan sebuah passion Oreo lebih memilih untuk menggunakan personality dalam aktivitas media sosialnya. Hal ini nampaknya berhasil. Permainan visual Orea dalam membentuk kata-kata unik dengan menggunakan cream produknya berhasil menggaet 31 juta penggemar di Faceboook. Keceriaan, kegembiraan, senyum, dan kreatifitas adalah asosiasi yang dibangun Orea untuk berinteraksi dengan konsumen melalui media sosial.
Transparent Brands
Dalam menggunakan trik ini, sebuah brand biasanya menunjukkan apa yang menjadi aktivitas operasional mereka sehari-hari kepada publik melalui media sosial. Sebut saja IBM. Perusahaan teknologi ini menyediakan hosting untuk 32.000 blog individual dari para pekerjanya.
Metode ini nampaknya menjadi cara umum yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan teknologi. Brand lain seperti Intel, Google, dan Microsoft juga menerapkan hal yang serupa meski Apple menjadi satu-satunya pengecualian. Strategi ini berhasil untuk menggaet konsumen yang menginginkan informasi tertentu meski tidak harus benar-benar cinta (passionate) terhadap hal itu. Ini yang membedakan transparent brand dari passion brand. Hal yang dilakukan passion brand adalah membangun asosiasi merek meski tidak benar-benar dilakukan di dunia nyata. Sebagai contoh, Nike membuat perlengkapan atletik, bukan olahraga itu sendiri, sementara Ford membuat mobil yang juga dikendarai konsumen sehari-hari.

Wednesday, December 26, 2012

Ini Tips Jadi Pengusaha ala Dahlan Iskan

http://finance.detik.com/read/2012/12/25/163121/2126395/4/ini-tips-jadi-pengusaha-ala-dahlan-iskan?fb_action_ids=4327326105586

Wiji Nurhayat - detikfinance
Selasa, 25/12/2012 16:31 WIB


Yogyakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan memberikan beberapa tips menarik menjadi seorang wirausaha sukses. Hal ini Ia berikan pada launching and talkshow 1000 wirausaha mandiri di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Selasa (25/12/2012).

"Ada tiga tips yang harus anda lakukan," kata Dahlan singkat yang menggunakan baju kemeja putih, celana hitam dan sepatu kets di UGM.

Tips pertama yang harus dilakukan menurut Dahlan adalah jangan percaya kalo pengusaha itu lahir karena darah pengusaha. Dahlan memberi contoh Ia sendiri dan teladan orang Tionghoa yang saat ini hampir menguasai perdagangan di seluruh dunia.

"Orang Tionghoa mereka hanya ketularan jadi pengusaha bukan berdasarkan keturunan.
Juga saya ayah buruh tani, ibu buruh batik saya menjadi seorang pengusaha. Jadi siapapun jadi pengusaha," jelas Dahlan.

Tips kedua dari Dahlan adalah kapan harus menjadi pengusaha. Menurut Dahlan usia muda sangat cocok untuk memulai dunia usaha. Dan tips ketiga adalah jangan memaksakan untuk cepat-cepat sukses.

"Pengusaha harus pernah ditipu dan mengalami kesulitan. Makanya dari muda jangan sudah tua menjadi pengusaha. Lihat dari kita mulai usaha," tandasnya.

Monday, December 17, 2012

Lebih Produktif Menjelang Deadline?

http://lipsus.kompas.com/blibli/



Ide cemerlang baru keluar on last minute deadline? Atau saat “tertekan” lebih produktif ? Bagi Anda yang sering mengalami kejadian seperti ini tidak perlu malu untuk mengacungkan tangan, tentunya dengan syarat, hasil akhir yang tetap memuaskan. 

Addicted to deadline! Sudah menjadi rahasia umum terutama untuk Anda yang bekerja di bidang industri kreatif, detik- detik akhir tenggat waktu adalah saat yang paling krusial. Sebuah momen dimana konsentrasi penuh tercurah, bercampur dengan perasaan excitement dan passion. Semuanya semata-mata untuk memberikan yang terbaik bagi pekerjaan yang  telah menjadi tanggung jawab.

Dari sisi time management, tentu ini menjadi sebuah “pekerjaan rumah” yang harus Anda benahi. Melanggar semua tahapan pre & post planning kadang bisa mengakibatkan risiko kerugian.

Sisi baiknya adalah tingkat kemampuan Anda untuk berpikir, berkreasi dan mengambil keputusan akan bertambah tajam. Dan bukan tidak mungkin hasil akhir yang keluar akan lebih hebat daripada yang Anda bayangkan.

If you've got stuck in a moment, bisa jadi hal tersebut karena Anda kurang memberi dorongan yang lebih pada diri Anda sendiri. Faktor luar seperti deadline memang bisa menjadi perangsang bagi Anda untuk mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik, namun jika Anda mampu mengendalikan kreativitas dan performa kerja yang tinggi tanpa harus bergantung dengan datangnya deadline, Anda akan menikmati hasil yang luar biasa Amazing!

Tuesday, December 4, 2012

Mencegah Kebocoran



http://www.marketing.co.id/blog/2011/05/30/mencegah-kebocoran/


Loyalitas yang rendah memang menjadi isu sentral di banyak perusahaan penyedia layanan. Bagaimana strategi menjaga agar loyalitas pelanggan tetap tinggi?
Seperti sebuah lagu, kesetiaan memang sulit dicari pada zaman sekarang. Sama halnya dengan pelanggan, rasanya semakin sulit menjaga kesetiaan. Pilihan memang terlalu banyak, sehingga pelanggan pun senang untuk melirik ke sana-kemari. Lihat saja data ini: 70 persen dari nasabah bank minimal punya dua rekening bank. 80 persen dari pengguna kartu seluler ternyata pernah berganti provider minimal satu kali.
Data ini menunjukkan bahwa Anda sulit memiliki pelanggan yang abadi. Sebagian perusahaan kini sudah mengeluhkan bahwa layanan yang diberikan sepertinya sudah tidak bermakna lagi bagi pelanggan untuk kembali. Sebagian lagi merasakan tingkat kebocoran (churn) yang tinggi, melebihi besarnya pelanggan yang diakuisisi. Akibatnya secara neto, perusahaan sebenarnya kehilangan pelanggan.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk mencari pelanggan baru, namun hanya butuh waktu beberapa detik seorang pelanggan memutuskan untuk pergi dari Anda. Itulah sebabnya, menjaga pelanggan pada zaman sekarang menjadi isu yang teramat penting.
Pelayanan mau tidak mau harus menjadi salah satu ujung tombak untuk mempertahankan pelanggan. Apalagi jika produk Anda tergolong mudah untuk ditiru, maka pelayanan harus dikedepankan untuk mencegah larinya pelanggan.
Setiap tahun Carre CCSL selalu menyelenggarakan survei pelayanan yang disebut sebagai Indonesian Service Satisfaction Index (ISSI). Survei ini dilakukan untuk  mengukur seberapa besar tingkat kualitas pelayanan di perusahaan. Survei yang sudah dilakukan bertahun-tahun bekerjasama dengan Majalah Marketing ini, pada tahun 2011 dikerjakan bersama dengan Majalah Service Excellence.
Survei yang melibatkan ribuan pelanggan ini dilakukan terhadap kontak layanan dari pernyedia layanan di berbagai industri. Tim survei melakukan wawancara terhadap pelanggan yang mempergunakan kontak layanan tertentu.
Ada dua parameter yang dijadikan tolok ukur kepuasan, yakni Perceived Service Quality (PSQ) dan Perceived Service Value (PSV). PSQ  mengukur kepuasan dalam hal akses terhadap service point tersebut, service process yang terkait layanan, kepuasan terhadap frontliner dan penanganan komplain. Sementara PSV mengukur kesetaraan antara harga yang diperoleh dengan pelayanan yang diperoleh.
Dengan adanya pelayanan yang berkualitas, diharapkan loyalitas juga bisa tercapai. Bagaimana strategi pelayanan yang tepat agar pelanggan pun bisa loyal kepada kita? Beberapa saran dari Jill Griffin, pengarang buku tentang customer loyalty bisa memberi kita arahan.
Langkah pertama yang bisa dijalankan adalah dengan membagi segmen pelanggan kita dengan baik. Tidak semua pelanggan harus diperlakukan sama. Kadang-kadang perusahaan membagi pelanggan atas dasar pareto, yakni mereka yang memberi 80% revenue perusahaan dan mereka yang hanya menyumbang 20 % revenue. Wajar jika kemudian perusahaan memberikan loyalty package yang lebih baik kepada pelanggan yang mampu memberikan kontribusi terbaik kepada perusahaan.
Perbedaan dalam melayani juga bisa dilakukan dengan membagi pelanggan berdasarkan tingkat loyalitasnya. Ada pelanggan yang baru, repeat customers, sampai pelanggan yang menjadi “corong” perusahaan kita. Setiap pelanggan dalam tingkatan ini tentu saja harus diperlakukan berbeda. Sebagai contoh adalah BAF (Bussan Auto Finance). Perusahaan leasing ini memiliki program-program khusus untuk repeat order customers dengan memberikan STAR Program, BAF Card, dan lain-lain.
Kedua, adalah dengan cara mendengarkan pelanggan secara terus-menerus. Termasuk pula dalam menggali keluhan pelanggan. Ingat fakta ini: hanya 10 persen dari pelanggan yang menyuarakan keluhannya kepada pelanggan. Sisanya adalah pelanggan yang tidak komplain namun sebenarnya dia merasa tidak ada yang menarik dari pelayanan kita, atau bahkan tidak puas. Mereka adalah pelanggan yang tiba-tiba saja “menghilang” dari pandangan Anda. Mendengarkan pelanggan juga bisa dilakukan dengan cara menggali harapan-harapan mereka, termasuk value apa yang diinginkan mereka. Dengan demikian, pada saat kita mendeliver pelayanan sudah sesuai dengan harapan mereka.
Ini misalnya dilakukan oleh Yamaha Motor Kencana Indonesia yang rutin mengadakan survei ketidakpuasan pelanggan. Tujuannya tentu saja menggali apa yang membuat pelanggan tidak puas terhadap layanan Yamaha. Ini adalah salah satu kegiatan proaktif yang dilakukan  oleh Yamaha.
Ketiga adalah dengan menciptakan strategi “win back” yang bertujuan merebut kembali pelanggan yang sudah keluar. Ada data yang menunjukkan bahwa setiap tahun perusahaan kehilangan 20 sampai 40 persen pelanggannya. Jadi secara alamiah atau tidak, minimal 20 persen pelanggan Anda bisa keluar dengan berbagai alasana. Oleh sebab itu, buatlah strategi customer win back, agar kebocoran pelanggan bisa kembali “ditambal”.
Keempat adalah selalu menjalankan sikap responsif terhadap pelanggan. Kalau Anda tidak ingin kehilangan pelanggan, responsif-lah terhadap apa yang diingini pelanggan.  Zaman sekarang ini, semua layanan harus diberikan secara cepat. Memberikan pelayanan yang lambat membuat pelanggan tidak semangat dan cenderung untuk tidak loyal.
Kelima adalah membangun multiple channel buat pelanggan. Menciptakan banyak saluran pelayanan bagi pelanggan jauh lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan satu saluran saja. Dengan demikian hal ini bisa menghindari pelanggan keluar karena kehilangan kenyamanan dalam bertransaksi. Ini misalnya dilakukan oleh FIF (Federal International Finance) yang memberikan berbagai saluran dimana pelanggan bisa membayar cicilan dengan nyaman. Selain melalui ATM, saluran ini juga dibangun di pusat-pusat perbelanjaan dengan mendirikan kios-kios FIF.
Keenam, berkolaborasi dengan banyak partner untuk membangun kekuatan dalam memberikan pelayanan yang excellence. Di dunia pelayanan yang kompleks dewasa ini mau tidak mau kita harus bisa bekerjasama dengan banyak supplier ataupun partner untuk bisa menciptakan value kepada pelanggan. Sebagai contoh perusahaan leasing company bekerjasama dengan bank sebagai tempat untuk pembayaran cicilan.
Ketujuh, ciptakan database yang kuat dan tersentralisasi. Dengan demikian data pelanggan bisa diakses dengan cepat oleh banyak bagian, seperti bagian call center,  walk in center dan sales. Namun demikian, yang lebih penting daripada memiliki database adalah kemampuan menggali (data mining) sehingga bisa memberi banyak masukan soal apa yang sebaiknya dilakukan kepada masing-masing individu pelanggan.
Kedelapan, menciptakan loyalitas di kalangan para karyawan. Loyalitas yang kuat dari para karyawan akan mendorong mereka untuk ikut membangun kesetiaan para pelanggan.  Di FIF sendiri cara yang dilakukan adalah dengan menjalankan pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk memotivasi karyawan dan membangun nilai dan spirit dengan slogan “Working together with champion spirit”.
Memang memuaskan pelanggan adalah sebuah perjalanan yang panjang. Oleh karenanya, alangkah berbahagianya jika kita punya best friend forever, yakni pelanggan kita yang loyal.(Service Excellence)

Customer Oriented adalah Ibadah

http://www.marketing.co.id/blog/2011/06/30/customer-oriented-adalah-ibadah/

Dunia marketing merupakan tempat bagi orang-orang yang kreatif dan spartan. Mereka dituntut untuk menciptakan ide-ide pemasaran yang brilian dan tidak mudah untuk diikuti. Sementara itu, persaingan kian tajam, memaksa setiap marketer selalu siap memenangkan persaingan.

Makin kompetitifnya suatu persaingan, akan menghasilkan perusahaan yang tangguh dan hebat dalam menaklukkan pasar. Perusahaan yang sukses adalah mereka yang berhasil memformulasikan strategi pemasaran dengan benar, juga tepat. Bila tidak, bersiaplah menerima kenyataan yang tidak dinginkan dalam proses pembelajaran. Mahalnya ongkos pembelajaran yang dikeluarkan, hendaknya menjadi spirit untuk memberi konstribusi positif bagi perusahaan.
Perusahaan yang unggul dalam strategi pemasaran, setidaknya memperhatikan segmentasi danpositioning dengan cermat dan cerdas. Dalam pengamatan Achsan Permas, dosen senior PPM, mereka harus mengenali segmen-segmen tertentu yang masih baik daya belinya. Kemudian selalu mengikuti keinginan dan kebutuhan, juga mendeteksi preferensi dan gaya hidup mereka secara teliti. Dengan begitu, mereka bisa melayani lebih cepat. Umumnya, perusahaan yang punya integritas seperti itu akan menjadi pionir di segmen pasar tersebut. Dan pionir, lanjut Achsan, adalah attend to be a leader di market.
Contoh yang menarik adalah J-CO, perusahaan donat dan kopi milik Johnny Andrean Group. Logonya yang mirip dengan kedai kopi yang sudah leading, sempat mencuri perhatian publik. Tidak hanya itu, J-CO juga memelopori donat empuk di kelasnya. Banyak improvisasi yang dilakukan, dan kelihaian J-CO adalah melihat celah di pasar donat yang terlihat sempit. Dengan gebrakan donat empuknya, konsumen yang antri pun tidak merasa lelah. Malah semakin asyik dan terkesan tren, makan donat harus antri dulu.
Achsan berkomentar, kecerdikan J-CO adalah menemukan segmen yang daya belinya baik, lalu memenuhi kebutuhan mereka. “Jadi, kemampuan untuk mengetahui secara tepat kebutuhan dari segmen tertentu, menjadi kunci utama,” jelasnya. Begitu pula Sozzis. Mereka mencari terobosan untuk mempopulerkan kebiasaan makan daging. Kemampuan mereka mendeteksi kebiasaaan anak-anak untuk snacking adalah gagasan yang cukup bagus. Lebih lanjut, ia mengatakan, “Saya lihat, kualitas produk Sozzis harus segera ditingkatkan. Saya coba tanya beberapa mahasiswa, mereka bilang susah bukanya, harus pakai gunting.” Karena itu, Achsan menyarankan agar dicari kemasan yang lebih praktis.
Soal taste tidak jadi masalah. Kemampuan mencari celah untuk masuk ke pasar yang ingin dibidik, sebenarnya menjadi added value Sozzis untuk lebih intens lagi men-drive market. Achsan melihat kasus J-CO dan Sozzis, dan Pocari Sweat sebagai perusahaan yang mampu leading. Karena mereka menemukan segmen dengan daya beli yang baik, kemudian memenuhi kebutuhan mereka.
Selanjutnya, salah satu persoalan mendasar dalam mensukseskan kegiatan pemasaran, yaitu bagaimana pelayanan yang diberikan lebih bersifat customer oriented. Karena ini merupakan competitive advantagedari perusahaan. Achsan Permas mencontohkan kasus Nike. Perusahaan sepatu asal negeri Paman Sam itu tidak mempunyai pabrik. Ia hanya memperkuat competitive position-nya dan meng-enhance desain produk. Untuk urusan pabrikasi, Nike memilih outsourcing.
Karenanya, papar Achsan, ada tiga hal yang mendasari strategi pemasaran suatu perusahaan: customer oriented, distinctive capabilities, dan value enhancing. Ketiganya adalah emas. “Mendeteksi pasar dan menggabungkan customer oriented, jadi dia harus lihat pasar, apa sesuai dengan keinginan pelanggan. Baru dia menemukan apa yang dia bisa sampaikan ke konsumen. Dan itu selalu diperkuat. Misalnya, produk yang tidak mudah ditiru,” demikian Achsan memaparkan strategi pemasaran yang patut dicontoh oleh mereka yang ingin menjadi the winner.
Sedangkan untuk para pemain baru, mereka harus bekerja ekstra lagi karena belum mempunyai basis pelanggan. Terobosannya, pemain baru yang ada bisa memakai blue ocean strategy. Asalkan mereka mengetahui persis pasar mana yang akan dibidik. Syaratnya, mesti punya pengalaman di pasar dulu. Kalau tidak, mereka harus investasi besar di SDM dan advertising, serta memperkuat jalur distribusi.
Selain itu, inovasi merupakan solusi untuk memenangi pasar. Tetapi harus melibatkan tim R&D yang tangguh. Atau bekerja sama dengan para entrepreneur baru. Achsan menilai, bahwa inovasi di pemasaran dimulai dengan membuat produk-produk baru, kemudian dikomersialisasi. Yang menarik, para pemasar harus melihat customer oriented sebagai faktor kunci dari setiap kegiatan pemasaran yang dilakukan. Bahkan ia menjelaskan bahwa customer oriented adalah ibadah. “Laksanakan dengan kesungguhan, sebagaimana kita beribadah.”

Cara Lain Menjual “Kenangan”

http://www.marketing.co.id/blog/2011/06/27/cara-lain-menjual-%E2%80%9Ckenangan%E2%80%9D/

Konsep Hall of Fame yang diadopsi 3D Baby Prints ternyata mampu mendulang untung. Bagaimana upaya sang pemilik merintis bisnis ini?

Rasanya, sudah banyak pengusaha yang bergelut di bisnis pernak-pernik bayi. Ada yang dibuat secara massal, ada pula yang handmade. Namun, sesaknya pemain di segmen bayi ini tidak menyurutkan niat Henny Tan untuk ikut  mencicipi renyahnya bisnis tersebut.

Di bawah bendera PT Tatacipta Mega Pelangi, Henny menjalankan bisnis berlabel 3D Baby Prints. Perusahaan yang berdiri tahun 2006 lalu ini mengkhususkan diri pada pembuatan replika kaki, tangan, maupun anggota tubuh lainnya—sesuai permintaan pelanggan.
“Terinspirasi dari para orangtua yang ingin mengenang masa indah saat bayi mereka lahir, betapa mungil tangan dan kaki mereka, maka saya membuat produk replika ini,” katanya. Bayi memang tumbuh terlalu cepat. Oleh karena itu, Henny menawarkan produk yang membuat momen indah itu dapat dikenang seumur hidup.
Sebenarnya, produk replika semacam ini sudah marak di luar negeri, salah satunya Amerika Serikat (AS). Di Indonesia sendiri, pemainnya tergolong langka. Hampir dipastikan jumlahnya bisa dihitung dengan jari karena tidak terdengar sepak terjangnya. “Tahun 1996, ada beberapa pemain, tetapi pasarnya tidak meluas. Hanya terfokus di Jakarta saja,” ungkapnya.
Henny pun memutuskan untuk melebarkan sayap bisnisnya hingga ke luar kota. Sayang, keinginannya tak semudah membalikkan telapak tangan. “Untuk membuat satu pesanan replika, saya harus datang kecustomer guna proses pencetakan bentuk. Apalagi, pembuatannya sangat tergantung pada mood sang bayi agar hasilnya sesuai keinginan,” tambahnya.
Kalau sudah begitu, bisa dibayangkan berapa budget yang harus dikeluarkannya untuk menyambangi pelanggan di daerah. Maka, satu strategi jitu ditempuhnya, yakni membuat konsep waralaba. Tepat tahun 2008, waralaba miliknya resmi diluncurkan. Dijelaskannya, sistem ini sangat membantunya menggulirkan roda bisnis, yang semula cuma dijalankan oleh tiga orang.
Kini gerai 3D Baby Prints sudah bisa ditemui di Solo, Surabaya, Malang, Semarang, Manado, Riau, Medan, Bali, Makassar, dan Balikpapan. Namun, satu daerah tidak boleh dipegang lebih dari satu franchisee. Tujuannya agar tidak terjadi bentrokan. Tempat usaha yang digunakan bisa berbentuk rumah, toko ataupun outlet di dalam mal. “Jadi, tidak ada kendala dalam pemilihan lokasi penjualan. Yang terpenting adalah sistem jaringan penjualan,” tegasnya.
Untuk menjadi franchisee, harga yang ditetapkan terdiri dari tiga pilihan: Rp 38 juta, Rp 58 juta, dan 138 juta untuk masa 5 tahun. Selain mendapat suplai bahan dasar pembuatan replika, juga diberikan training cara pembuatan replika selama 3 hari, selanjutnya diinformasikan lewat e-mail.
Produk-produk 3D Baby Prints terbagi dalam beberapa kategori. Harga yang dipatok berbeda untuk skala usia yang dimulai dari nol hingga 8 tahun. Sebagai informasi, pemesanan 1 pieces tangan bayi berusia nol sampai 3 bulan seharga Rp 149 ribu; 4-12 bulan Rp 199 ribu; 13-24 bulan Rp 249 ribu; 25-36 bulan Rp 299 ribu; 3-5 tahun Rp 399 ribu; dan usia 6-8 tahun seharga Rp 399 ribu. Harga tersebut belum termasuk frame, panel kayu maupun plakat nama. Selain itu, masih dibagi lagi menurut jumlah pieces yang dipesan yakni 1pieces tangan/kaki, 2 pieces tangan/kaki, serta 4 pieces berupa 2 tangan dan 2 kaki.
“Memang harga yang ditawarkan terkesan mahal. Tetapi, saya menilai produk ini adalah karya seni dan dibuat secara handmade. Jadi, wajar saja harganya seperti itu. Di samping itu, pengukuran harga juga dipengaruhi oleh human resource,” ujarnya.
Yang jelas, produk ini didesain khusus untuk setiap pelanggan. Hasil satu desain berbeda dengan desain lainnya. Jadi, sifatnya eksklusif. Menurutnya, bahan yang digunakan pun berkualitas tinggi. Bahan tersebut tidak berbahaya bagi bayi karena terbuat dari rumput laut yang berasal dari AS. Kelebihan lainnya, obyek replika bisa diraba secara utuh lantaran  diabadikan dalam bentuk tiga dimensi.
Ditegaskan Henny, target market-nya tak sebatas kalangan menengah ke atas saja,  masyarakat menengah ke bawah juga banyak yang memesan. Apalagi replika yang dibuatnya bukanlah barang yang mengikuti tren pasar. Siapa saja bisa menikmati produk ini selama orang tersebut menyukai karya seni—apa pun bentuknya.
Oleh karena itu, ia tak sungkan-sungkan menawarkan kerja sama dengan beberapa rumah sakit dan toko yang khusus menjual pernak-pernik bayi. Sejauh ini, sudah ada 4 rumah sakit yang menjadi mitranya, 2 di Solo dan 2 lagi di Medan. Di luar itu, ada beberapa data mitra lainnya yang belum masuk ke laporannya karena jumlahnya kian menumpuk.
Untuk promosi, 3D Baby Prints menggunakan jalur above the line dan below the line. Hal pertama yang dilakukan Henny adalah mengikuti pameran-pameran di beberapa mal untuk menarik calon pembeli. Kegiatan tersebut diselenggarakan secara kontinu sebulan sekali. Satu pameran mampu membukukan hingga 100 order. Ia pun mengandalkan word of mouth dalam strategi marketingnya.
“Sekarang saya juga mulai memasang iklan di beberapa media massa untuk menjaring pasar yang lebih luas lagi. Materi iklan ini tak hanya difokuskan pada produk bayi saja, tapi juga dewasa seperti replikawedding. Istilahnya, menggarap pasar family,” ujarnya.
Diceritakannya, selama menggeluti bisnis replika, ia hampir tak pernah mengalami kendala. Selain minimnya jumlah kompetitor, omzet yang didapat pun cukup menggiurkan. Jika mampu menjual 30 pieces sebulan, maka rata-rata laba yang bisa diraup mencapai Rp 5-6 juta per bulan. Hanya saja, kesulitan terletak pada bahan yang mudah pecah sehingga harus berhati-hati saat melakukan finishing.
Lantas, bagaimana prospek bisnis replika ini ke depannya? “Bisnis ini akan terus berjalan selama masih ada bayi yang lahir. Juga selama masih ada orang yang menyukai karya seni atau ingin mengabadikan momen,” pungkasnya optimistis.

Mobile Marketing: Masa Depan Dunia Marketing

http://www.marketing.co.id/blog/2010/02/28/mobile-marketing-masa-depan-dunia-marketing/

image


Ponsel adalah barang yang selalu dibawa kemanapun kita pergi. Kedekatannya dengan sang pemilik membuat gadget ini menjadi media yang sangat potensial untuk melakukan promosi. Personal, kontekstual, dan real-time.
Kalau ada pertanyaan benda apa yang tak pernah ketinggalan dalam kegiatan kita sehari-hari, mungkin jawabannya adalah ponsel. Dari riset yang pernah dilakukan oleh IDC (International Data Corporation) pada tahun 2007 silam, terungkap bahwa 38% responden yang berjumlah 2.400 orang dari 17 negara memilih membawa ponselnya ketimbang dompet.
Penelitian ini jelas memperkuat anggapan bahwa ponsel adalah bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari kita. Pernah ada rekan kerja yang ponselnya ketinggalan di rumah dan sepanjang hari dia terlihat kebingungan. Dia merasa seperti ada yang hilang dari hidupnya hari itu.  Tentunya bukan rekan kerja itu saja yang mengalami hari yang aneh ketika ponselnya tertinggal. Mungkin hampir dari kita semua akan merasakan hal yang sama.
Keterikatan kita yang cukup luar biasa pada ponsel dengan sendirinya membuat ponsel menjadi media yang sangat penting. Mobile device bahkan disebut-sebut sebagai media generasi ketujuh setelah surat kabar, rekaman, sinema, radio, televisi, dan internet. Sementara dalam dunia media digital, mobile device menjadi generasi kedua setelah internet.
Mobile device memiliki setidaknya tiga kelebihan dibanding media-media terdahulu. Pertama, mobile device tak sekadar alat komunikasi, lebih jauh perangkat ini telah menjadi fashion statement seseorang. Pilihan merek dan tipe ponsel akan menjadi pernyataan identitas dan gaya hidup seseorang.
Kedua, mobile device selalu dibawa kemanapun kita pergi dan umumnya selalu dalam keadaan hidup selama 24 jam. Saat ini jarang rasanya kita menemukan orang-orang yang mematikan ponselnya setelah jam kantor, apalagi di kalangan eksekutif. Ponsel mereka hidup dan siap menerima panggilan selama 24 jam. Karena setiap dering telepon atau SMS yang masuk bisa jadi sebuah peluang bisnis. Kalau sampai terlewat karena ponsel mati tentu sebuah kerugian. Ketiga, ponsel memberikan pengalaman unik kepada penggunanya dari kamera dan voice.
Keunikan serta kemampuan yang dimiliki ponsel dengan sendirinya akan menciptakan kapabilitas konsumen dan model periklanan yang baru. Ponsel akan menjadi media promosi yang sangat kuat dengan kemampuannya menyampaikan pesan yang kontekstual, personal, dan real-time. Hal ini jelas keunggulan paling mencolok di antara media-media lainnya seperti media cetak, radio, dan televisi.
Saat ini tercatat ada lebih dari tiga miliar pengguna ponsel. Jumlah ini tiga kali lipat lebih banyak ketimbang pengguna PC. Sementara akses internet juga mulai bergeser ke arah mobile internet, jumlah pengguna mobile internet kini mencapai seperempat dari total pengguna internet.
Tak hanya itu, kini jumlah ponsel bahkan dua kali lebih banyak daripada jumlah televisi. Hal ini tentu fakta besar tapi bukan hal yang mengejutkan. Coba Anda bayangkan ada berapa TV set di rumah Anda, bandingkan dengan jumlah ponsel yang Anda dan anggota keluarga Anda miliki. Tentu jawabannya akan lebih banyak jumlah ponsel di rumah Anda bukan?
Seperti halnya internet, ponsel kini telah menjadi media massa baru. Dengan lebih dari satu miliar handsetyang terjual di seluruh dunia setiap tahunnya dan infrastruktur jaringan mobile broadband yang dapat mentransmisi pesan-pesan komunikasi, ponsel – pada tingkatan dasar – siap menjadi media promosiprime-time.
Hal yang juga sangat penting adalah bahwa ponsel memiliki atribut unik dibandingkan pilihan media lainnya, termasuk spesifikasi geografis ataupun lokalitas. Media ini juga memiliki potensi personal karena tiap konsumen memiliki handset sendiri. Setiap faktor tersebut merupakan pembeda utama sekaligus nilai terbesar bagi para marketer. Hal ini membuat media selular memiliki potensi untuk meraup belanja per tahun sebesar 500 miliar dolar AS di seluruh dunia.
Namun, seperti halnya media yang baru lahir, penciptaan pengalaman-pengalaman yang luar biasa bagi para penggunanya merupakan sebuah hal yang sangat kritikal. Mengapa? Karena pengalaman-pengalaman inilah yang akan mendorong adopsi konsumen secara masif. Adopsi yang dimaksud tak hanya dari segi jumlah pemakai, tetapi juga kemampuan dan kemauan konsumen mengulik dan memanfaatkan fitur yang disediakan secara maksimal.
Hal itu kini mulai terlihat. Salah satunya dengan semakin tingginya aktivitas ponsel para pengguna. Kini ponsel tak lagi hanya digunakan untuk bertelepon dan saling kirim pesan singkat. Tetapi digunakan pula untuk mendengarkan musik, melihat video, bermain game, bahkan mendengarkan ceramah keagamaan dan mempelajari kitab suci.
Menurut data dari Informa, pada tahun 2006 total value global untuk mobile content mencapai 31 miliar dolar AS. Jumlah ini melampaui pendapatan internet yang hanya 25 miliar dolar AS. Pada tahun 2007, konten musik mencapai nilai 9,3 miliar dolar AS, sementara mobile gaming mencapai 5 miliar dolar AS.
Hal ini tentunya menjadi sinyal positif bagi marketer. Meski begitu, para marketer harus tetap berhati-hati dalam melancarkan promosi melalui media ini. Cara-cara yang digunakan haruslah kreatif dan sudah barang tentu mendapat izin dari penguna ponsel. Karena kalau tidak, bisa saja promosi yang dilancarkan akan dianggap sebagai spam. Namun, bila dijalankan dengan benar, keuntungan-keuntungan yang didapat tentunya akan jauh lebih besar dari yang jumlah rupiah yang kita investasikan.
Di Amerika Serikat sendiri mobile advertising berada pada tahap berkembang. Hal ini sebenarnya tak berbeda jauh dengan kondisi di belahan dunia lainnya, termasuk Asia. Menurut Association of National Advertisers, pada tahun 2007 spending pada mobile advertising sebesar 150 juta dolar AS. Namun, angka ini diyakini akan berubah dengan cepat saat generasi yang lebih muda – usia 11-17 tahun – menjadi dewasa.
Semakin dewasanya generasi tersebut tentunya akan dengan sendirinya mengubah pola perilaku konsumen. Pola konsumsi mereka tentunya akan jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Satu hal yang pasti, mereka akan lebih cepat mengadopsi sebuah teknologi baru. Generasi tersebut bahkan tak mengenal sebuah ponsel tanpa kamera atau hidup tanpa text messaging.
Konsumen generasi inilah yang akan menjadi target utama mobile advertising, karena merekalah yang akan mulai melihat iklan-iklan di ponsel mereka. Interaktivitas media dan iklan pun akan bertransformasi menjadi bentuk baru dengan medium komunikasi yang baru, salah satunya mobile device.
Masalahnya, siapkah para marketer kita menyambut hadirnya era ini? Di Indonesia sendiri mobile marketing maupun mobile advertising belumlah begitu populer. Langkah-langkah kecil sudah dilakukan dalam bentuk SMS marketing atau gaming marketing. Namun, sesungguhnya masih banyak yang bisa dilakukan lewat media ini. Mobile marketing dan mobile advertising diramalkan akan menjadi masa depan dunia marketing dan periklanan. Karenanya persiapkan strategi jitu lewat media ini sekarang. Jangan tunggu sampai besok.