Thursday, October 16, 2014

bicara PLASTIK

Mengubah Kantong Plastik Jadi Duit

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/17/14553962/Mengubah.Kantong.Plastik.Jadi.Duit.-3

KOMPAS.com - Habis manis sepah dibuang, itulah pameo yang selalu berlaku bagi sebuah kantong kresek. Usai dipakai untuk mewadahi sesuatu, nasib lanjutan baginya adalah berkalang sampah di tempat pembuangan. 
Sayang, tak banyak yang sadar bahwa ia mempunyai umur yang panjang, ratusan tahun bagi sebuah kantong kresek tak akan membuatnya hancur sempurna.
Beni Chandra adalah satu dari sedikit orang yang prihatin atas hal itu. Fisikawan yang lulus dari ITB pada 2006 itu tergerak memperpanjang masa pakai kantong kresek dengan cara lain.
Usahanya itu bermula dari sebuah keinginan untuk mandiri sekaligus prihatin atas keadaan semakin menggunungnya sampah di Kota Bandung. Dari tangan mahasiswa biasa bermodal cekak itulah sebuah usaha ramah lingkungan yang mendatangkan berkah menemui titik awalnya.
Lima tahun silam, tangan Beni sendirilah yang memasukkan limbah kantong kresek ke dalam karung. Layaknya pemulung, pria kelahiran 1984 itu mengitari tempat pembuangan sampah di pusat pertokoan kota Bandung.
Ia selalu berpikir dan tak pernah lepas menyimpan keyakinan di hati bahwa kantong kresek memiliki potensi yang besar jika diolah menjadi sesuatu yang lain.
"Selain itu juga dapat menyelamatkan lingkungan, karena limbah plastik sulit dicerna oleh tanah," katanya.
Otak bisnis dikombinasi dengan pengetahuan yang didapatnya di bangku kuliah membuat Beni memiliki ide mengolah kantong kresek menjadi biji plastik bahan daur ulang yang banyak diburu perusahaan plastik.
Dapat pinjaman
Layaknya gayung bersambut, ide Beni didukung 100 persen oleh sang dosen yang tak segan memberinya pinjaman modal usaha sebesar Rp 200 juta.
Pinjaman itu digunakan untuk keperluan membuka usaha mulai dari menyewa lahan di desa Ciganiti, Buah Batu, Bandung, membeli mesin pencacah plastik, menyewa mobil bak pengangkut, hingga menggaji 15 tenaga kerja.
"Sisanya untuk modal kerja yakni untuk membeli sampah kantong kresek yang harganya Rp 1000 perkg," kata Beni Chandra.
Aktivitas usahanya berlangsung setiap hari selama delapan jam dan dalam jangka waktu dua hari, usaha Beni mampu memproduksi 1,5 ton biji plastik.
Ia tak kesulitan menjual barang produksinya sebab banyak distributor dan pabrik plastik di kawasan industri Cicahem, Cimahi, sangat membutuhkan pasokan bahan baku daur ulang plastik.
Mereka siap menampung produksi Beni dan mematok harga tinggi Rp 3.000 per kg biji plastik. Alhasil Beni berpenghasilan minimal Rp 4,5 juta/bulan setelah dikurangi biaya operasional termasuk menggaji 15 karyawan rata-rata Rp 700.000 perorang. Pinjaman pada sang dosen dalam waktu relatif singkat berhasil dilunasinya.
Itu baru tahap awal, sebab kini kantong kresek sang fisikawan terus menjadi buruan para distributor dan pabrik plastik yang memerlukan pasokan bahan baku. Beni sempat kewalahan, modal yang terlampau pas-pasan membuatnya sulit memenuhi order yang terus menggunung.
KUMKM
Namun Beni Chandra tak pernah berdiam diri untuk mempertahankan kelanjutan usahanya. Tekad kuat itulah yang membuatnya kemudian menemukan jalan keluar. Tangan Tuhan pun bekerja. Inilah bentuknya: pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM mengucurkan dana bergulir melalui PT Sarana Jabar Ventura untuk usahanya.
Kembali dana operasional disuntikkan. Dana pinjaman sebesar Rp 175 juta digunakannya untuk mengekspansi usaha mulai dengan membeli mesin peleburan plastik, mesin pembersih, mesin pembilas, mesin pengering, hingga menambah kapasitas instalasi listrik.
Kini, Beni Chandra memiliki empat mesin pemroduksi biji plastik dan mempekerjakan 15 tenaga kerja. Itu memungkinkannya mampu memasok lebih banyak pabrik plastik daur ulang meski belum sepenuhnya dapat memenuhi pasokan bahan baku yang mereka pesan. Laba bersih dari usahanya kini mencapai lebih dari Rp 12 juta perbulan.
Beni tak lantas puas, ia masih memiliki mimpi untuk dapat mengolah limbah plastik dari hulu ke hilir. Belum lama ini ia bahkan sukses menemukan inovasi rotan plastik berbahan baku kantong kresek. Karyanya itu telah diujicobakan di Industri Kerajinan Yayasan Kayu Api, Gede Bage, Bandung.
"Saya masih punya cita-cita untuk mengolah kantong kresek dan limbah plastik menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat, selain juga merupakan salah satu upaya yang ramah lingkungan juga mampu membuka peluang lapangan kerja bagi orang lain," katanya.

Inilah Bahaya Kantong Plastik

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/17/15020598/Inilah.Bahaya.Kantong.Plastik.-3

KOMPAS.com - Bahaya limbah plastik bukan omong kosong. Telah banyak penelitian membuktikan dahsyatnya limbah plastik mendatangkan bahaya termasuk potensi negatifnya dalam mendegradasi lingkungan.
Hal yang pasti adalah dampak negatif sampah plastik tidak sebesar fungsinya. Butuh waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna.
Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin.
Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.
Bagi lingkungan, kantong plastik juga mengakibatkan banjir, karena menyumbat saluran-saluran air dan tanggul sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk.
Diperkirakan, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah ini dibentangkan maka, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat!
Setiap tahun, sekitar 500 miliar hingga satu triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik setiap tahunnya dan lebih dari 17 miliar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia setiap tahunnya.
Perubahan iklim
Kantong plastik juga menjadi salah satu penyebab perubahan iklim utama di mana sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer.
Kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksinya sangat tidak hemat energi. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik juga mengeluarkan gas rumah kaca.
Saat ini berbagai negara di dunia mulai melarang dan merespon bahaya penggunaan kantong plastik, seperti di Kenya dan Uganda yang sudah secara resmi melarang penggunaan kantong plastik.
Sejumlah negara lain juga mulai mengurangi penggunaan kantong plastik di antaranya Filipina, Australia, Hongkong, Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Swedia, Finlandia, Denmark, Jerman, Swiss, Tanzania, Bangladesh, dan Afrika Selatan.
Singapura, sejak April 2007 telah berlangsung kampanye "Bring Your Own Bag" (bawa langsung kantong Anda sendiri), digelar oleh The National Environment Agency (NEA).
Pemerintahan China juga telah mengeluarkan rancangan undang-undang (RUU) mengatasi kantong plastik dan reaksi yang telah disiapkan antara lain pelarangan penggunaan tas plastik di departement store.
Para pembeli akan dikenakan bayaran untuk kantong plastik dan akan diberlakukan standardisasi produksi tas plastik.
Berbagai alasan itulah yang mendorong Beni Chandra memulai perlawanan terhadap limbah plastik di Indonesia. Baginya bahaya plastik harus disulap menjadi sesuatu yang mendatangkan lebih banyak berkah.

Saatnya UKM Berbasis Eco-Green

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/17/15111386/Saatnya.UKM.Berbasis.EcoGreen.

KOMPAS.com - Kementerian Koperasi dan UKM sejak jauh-jauh hari menyatakan siap mengakomodasi pelaku UKM berbasis ramah lingkungan seperti yang dijalankan Beni Chandra.
Institusi itu menyatakan mulai mengupayakan secara bertahap agar produk UKM Indonesia mulai berbasis eco-green agar lebih mudah menembus pasar ekspor.
"Kami mulai mendorong pelaku UKM agar memproduksi barangnya dengan menerapkan konsep eco-green yang lebih ramah lingkungan," kata Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldi Halim.
Hal itu menurut Neddy Rafinaldi Halim harus mulai dilakukan untuk membuka peluang lebih besar lagi bagi pasar produk UKM yakni pasar ekspor. Produk berbasis eco-green saat ini banyak diminati berbagai negara maju.
"Oleh karena itu, kami melakukan fasilitasi dan pendampingan kepada sejumlah UKM agar mulai menerapkan konsep eco-green dalam memproduksi barang-barangnya," kata Neddy.
Salah satu yang dilakukan adalah memberikan perkuatan modal kepada pelaku UKM ramah lingkungan termasuk usaha Beni Chandra melalui skema dana bergulir.
Kerjasama
Pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya untuk menerapkan konsep eco-green tersebut termasuk menggandeng Korea Selatan (Korsel) yang selama ini dikenal dengan produk-produk UKM-nya yang ramah lingkungan.
Pihaknya bahkan telah menjalin kesepakatan dengan Korsel untuk bekerja sama dalam penerapan eco-green belum lama ini.
Konsep eco-green merupakan konsep pengelolaan dan produksi material yang diupayakan untuk selalu ramah lingkungan. Korsel merupakan salah satu negara yang sangat concern terhadap pengelolaan produk berbasis eco-green.
"Kami telah sepakat untuk membuat "joint operation" dalam kerja sama eco-green yang akan dikembangkan di Indonesia," kata Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, belum lama ini.
Menteri Sjarifuddin mengatakan, Korsel telah setuju untuk membantu Indonesia dalam menerapkan konsep eco-green khususnya bagi pelaku UKM di tanah air. Untuk kepentingan itu, akan segera dibuka kantor perwakilan dan pemasaran bersama di Indonesia.
"Teknologi eco-green ini harus mulai kita adopsi karena erat kaitannya dengan pemeliharaan lingkungan, penggunaan material berbasis daur ulang, penghematan bahan bakar, hingga pendiversifikasian energi," katanya.
Korsel setuju untuk membiayai proyek percontohan penerapa konsep eco-green di Indonesia khususnya dalam bidang UKM sekaligus pemasaran produk UKM berbasis eco-green yang ramah lingkungan. "Kita harapkan konsep seperti ini bisa dilaksanakan di Indonesia," kata Menteri Sjarifuddin Hasan.
Dengan demikian diharapkan Indonesia akan melahirkan semakin banyak Beni Chandra yang mampu menyulap sampah menjadi berkah.

GREEN BUSINESS SAMPAH PLASTIK

Mendaur ulang sampah plastik menjadi sumber usaha

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/mendaur-ulang-sampah-plastik-menjadi-sumber-usaha--1
Wahyu Tri Rahmawati, Fahriyadi

Mendaur ulang sampah plastik menjadi sumber usaha

Plastik menjadi bahan pembungkus yang paling banyak digunakan masyarakat. Meski semangat go green terus berkumandang dan banyak yang mencoba menghindarinya, penggunaan plastik hingga kini belum menurun. Itulah sebabnya bisnis penggilingan plastik tetap menggelinding.

Penggilingan sampah plastik merupakan bagian penting dalam sistem daur ulang plastik. Proses itu menjadi jembatan agar sampah plastik bisa bermanfaat. 

Para penggiling sampah mengumpulkan plastik berupa botol, gelas atau lembaran plastik dari pemulung atau mencarinya sendiri. Sampah plastik digiling menjadi cacahan plastik. Kemudian, hasilnya dijual ke pabrik plastik. Di pabrik, cacahan itu diolah menjadi plastik baru.

Iyaz, pemilik usaha penggilingan plastik Berkah Semesta Hijau di Depok, sudah menekuni usaha ini sejak lima tahun lalu. Berawal dari ketertarikan melihat keberhasilan kawannya berbisnis penggilingan plastik, dia berminat menerjuni bisnis itu. Apalagi, dia melihat permintaan plastik daur ulang sangat tinggi. Dari hari ke hari, jumlah plastik yang diolahnya semakin banyak.

Ia mengatakan, tidak semua sampah plastik bisa didaur ulang dengan aman. Jenis plastik yang tidak bisa didaur ulang antara lain jenis polyvinyl chloride (PVC), polystyrene (PS), styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene sturene (ABS), polycarbonate (PC), dan nilon. 

Karena itu, Iyaz saat ini hanya mengolah tiga jenis sampah plastik, yaitu jenis polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), dan low density polyethylene (LDPE). PP biasa dijumpai pada kemasan cup plastik, sedangkan PET dan LDPE berasal dari botol plastik dan botol infus. "Selain keliling sendiri, juga ada yang memasok sampah-sampah ini," katanya. 

Plastik yang terkumpul dibersihkan hingga tidak menyisakan bahan lain. Iyaz mempekerjakan warga sekitar pabrik. Setelah benar-benar bersih, plastik dipisahkan berdasarkan jenis, baru dicacah.

Ada dua proses dalam pengolahan sampah plastik, yaitu penggilingan kering dan basah. Jika penggilingan kering, pencucian dilakukan setelah proses giling. Adapun penggilingan basah caranya mencampur plastik dengan air dingin atau panas. "Tingkat kebersihan dan kejernihan berbeda," kata Iyaz. Ia lebih memilih penggilingan air dingin karena lebih bersih.

Selain dijual ke pabrik-pabrik pengolahan plastik dalam negeri, ada juga yang menjual hasil cacahan plastik tersebut ke pasar luar negeri. Per bulan, Iyaz memproduksi cacahan plastik antara 5 hingga 10 ton. "Omzetnya bisa sekitar Rp 200 juta-an," kata Iyaz, yang saat ini baru memiliki satu mesin pengolah plastik. 

Dia berencana menambah satu mesin giling lagi karena meningkatnya permintaan. Sekadar informasi, harga satu mesin giling plastik sekitar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta. Harga tersebut belum termasuk mesin penggerak. Iyaz menggunakan penggerak dari mesin truk Hino.

Di sisi lain, dia mengungkapkan, aliran kas di bisnis penggilingan plastik tergolong cepat. Karenanya, dia harus membayar langsung secara tunai para pengepul sampah plastik. Untuk menghindari kemacetan pembayaran, Iyaz juga meminta bayaran tunai ke pabrik-pabrik yang membeli plastik olahannya.

Selain Iyaz, ada juga Stanley. Ia adalah pemilik CV. Sinar Terang di Surabaya yang mulai menggeluti bisnis ini sejak tahun 2008. Usahanya didorong oleh keinginan membantu orang tuanya yang memiliki home industry percetakan plastik. Dari usaha itulah, Stanley banyak menemukan sampah plastik yang menumpuk dan terbuang percuma. 

Bermodalkan sebuah mesin penggiling plastik berkapasitas 1 ton seharga Rp 20 juta, dia memulai usaha barunya. Kini, seluruh kapasitas mesin telah digunakan untuk menggiling material plastik, seperti gelas dan botol air mineral, ember, dan lain sebagainya. Menurut pria usia 29 tahun ini, proses penggilingan berlangsung sekitar tujuh jam. Hasilnya bijih plastik dengan bentuk dan kualitas yang baik.

Saat ini, pelanggan Stanley adalah para pengepul sampah. Mereka membeli jasa Stanley untuk mengolah sampah plastik menjadi bijih plastik untuk dijual kembali ke perusahaan plastik.

Stanley menerapkan tarif Rp 700 per kilogram untuk penggilingan kering dan Rp 800 per kilogram untuk penggilingan basah. Penggilingan basah lebih mahal sebab hasilnya lebih baik. Air yang ada dalam mesin akan membilas plastik, sehingga bijihnya lebih bersih dibandingkan penggilingan kering. 

Proses penggilingan basah biasanya dilakukan untuk sampah botol atau gelas air mineral. Sedang penggilingan kering untuk material plastik yang lebih keras, seperti ember dan baskom plastik. 

Setiap hari Stanley bisa memperoleh order dari dua sampai tiga orang pengepul plastik. Dari order itu, dia mampu mengumpulkan omzet Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per hari atau sekitar Rp 20 juta hingga Rp 25 juta saban bulan.

Meski memiliki omzet sebesar itu, Stanley masih mengeluhkan biaya bahan bakar minyak (BBM) yang mahal. Pasalnya, mesinnya sangat bergantung dari pasokan solar. Setiap hari, satu mesin kapasitas 1 ton miliknya membutuhkan sekitar lima liter solar.

Biaya perawatan mesin juga membebani. Apalagi saat ini harga suku cadang naik. Maklum, mesin penggerak penggiling plastik miliknya adalah mesin bekas yang dibeli dua tahun lalu.

Selain itu, usaha penggilingan sampah plastik sudah banyak dilakukan orang. Untuk itu, Stanley memilih memfokuskan usahanya di wilayah Surabaya sambil menunggu penambahan mesin penggiling baru.

PELUANG BISNIS MESIN PEMBUAT TALI RAFIA
http://mesintalirafiamurah.blogspot.com/p/peluang-bisnis-tali-rafia.html

Kami Menjual Mesin Tali Rafia, Mesin Gulung Rafia, dan Aksesoris baru atau rekondisi dengan harga terjangkau. Kami juga menjual berbagai mesin daur ulang plastik dan komponennya. Seperti Mesin Cuci Giling, Mesin Pelet Plastik, Mesin Biji Plastik, dsb. Bersedia menjadi konsultan mulai dari nol. Bisa menjadi mitra dalam suplai bahan baku dan pemasaran. Segera hubungi Kami CV. Lingkar Plastik 082335648563 atau email:lingkarplastik@gmail.com Alamat : JL. Pucang Anom Timur 1 / 52 Surabaya

Mesin pembuat tali rafia membikin plastik berasa manis

Kebutuhan yang tinggi akan tali rafia ikut mengerek laba produsen mesin pembuat tali rafia lokal. Meski dengan harga yang lebih murah namun kualitas mesin tak kalah jauh dari mesin impor, para produsen mesin ini juga mampu memperoleh omzet hingga ratusan juta rupiah. Pembeli mesin ini tak hanya pemilik toko kelontong namun juga pemilik pabrik.

Siapa yang tidak kenal dengan tali rafia? Tali plastik berwarna-warni ini sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Maklum, untuk kebutuhan ikat mengikat wadah ukuran besar tali rafia ini lebih efektif ketimbang menggunakan tali plastik atau tampar. Selain itu, harga tali ini juga murah meriah dibandingkan dengan jenis tali yang lain.

Itulah sebabnya, bisnis tali rafia juga tak ada matinya. Pengusaha kelas apa saja menggunakan tali ini untuk mempermudah pengemasan. Nah, seiring dengan larisnya tali rafia, para produsen mesin pembuatan tali ini pun merasakan kenaikan penjualan yang lumayan tinggi.

Lihat saja pengalaman Hadi Siswono, produsen mesin pembuat tali rafia di bawah CV Plastik Trimendo di Tangerang. Menurut Hadi, bisnisnya terkerek naik seiring dengan larisnya penjualan tali rafia.
Hadi mulai menekuni bisnis pembuatan mesin tali rafia sejak 2005 lalu. Sebelumnya, ia hanya membuka bengkel sepeda motor. Ide membuat mesin pembuat tali rafia ini sebenarnya datang dari teman-temannya. Bagi Hadi membuat mesin tali rafia ini juga tak susah karena dia sarjana mesin. “Awalnya, saya melihat mesin merek luar, kemudian saya modifikasi,” ujarnya.

Cara kerja mesin ini sejatinya sederhana saja, yakni mesin akan mencacah bijih plastik kering menjadi tali rafia. “Ada sistem pemanasan yang membuat biji plastik menjadi lembaran tali,” ujar Hadi.
Saat ini, dalam sebulan ia mampu memproduksi dua hingga tiga mesin berkapasitas 15 ton tali rafia. Hadi menjual mesin itu seharga Rp 40 juta hingga Rp 60 juta. Karena itu, dalam sebulan ia bisa meraup omzet hingga Rp 120 juta. “Kalau untuk mesin otomatis harganya Rp 60 juta,” ujarnya.

Hadi bilang, pembeli mesin tali rafia adalah pengusaha tali rafia di seputaran Jabodetabek dan Bandung. Pria berusia 45 tahun ini menambahkan, permintaan mesin belakangan datang dari luar Jawa. “Namun pemesanannya belum rutin,” ujarnya.

Pembuat mesin tali rafia lainnya adalah Dani Buldani pemilik CV Cahaya Tehnik di Cicalengka, Jawa Barat. Lelaki 32 tahun ini telah memproduksi mesin tali rafia sejak 2008 lalu. Menurut Dani, pemain bisnis ini masih sedikit. Selain itu, mesin tali rafia ini juga tidak diproduksi secara massal.

Namun, bagi Hadi maupun Dani mengingatkan, bagi konsumen yang ingin membeli mesin ini harus memesan terlebih dahulu. Pasalnya, pembuatan mesin memakan waktu selama satu minggu. Selain itu, pelanggan juga harus menyetor uang muka alias down payment sebesar 10% sampai 20% dari harga beli. “Setelah selesai, pelanggan kami beri tahu dan bisa mengirimkan biaya pelunasan. Setelah itu, mesin pun siap kami kirimkan,” tutur Dani.

Biasanya pelanggan Dani adalah pabrik pembuat tali rafia maupun toko grosir penjual aneka bahan plastik yang ada di Jabodetabek, Makassar, Batam. Medan, Kalimantan, Sulawesi, dan Pontianak.

Mesin pembuat tali rafia made in Dani ini dibanderol seharga Rp 40 juta, untuk mesin tali rafia ukuran kecil. Dan harga sebesar Rp 55 juta untuk satu unit mesin tali rafia besar. Dalam sebulan, Dani dengan dibantu sembilan karyawan sanggup menghasilkan hingga empat unit mesin.

Dengan begitu, omzet yang didulang pun mencapai Rp 100 juta per bulan. “Mesin buatan lokal ini memiliki cara kerja yang sama, menghasilkan kualitas yang sama dan tingkat keawetan yang sama dengan mesin impor meski harga jauh lebih murah,” pungkas Dani.

GREEN BUSINESS PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK JADI RAFIA

Mengikat laba dari limbah plastik yang menjadi tali rafia

Plastik adalah salah satu jenis sampah yang lama terurai oleh tanah. Namun, bagi orang yang jeli, sampah plastik yang mencemari lingkungan itu bisa menjadi pundi-pundi rupiah setelah diolah menjadi tali rafia. Selain ramah lingkungan, tali rafia dari sampah plastik itu mendatangkan omzet hampir Rp 500 juta per bulan.

Sebagian besar dari kita tentu tahu dan pernah mempergunakan tali rafia. Bahkan, bisa dibilang, tali rafia adalah tali yang paling sering kita gunakan untuk mengikat saat ini, dibanding dengan tali plastik atau tali tampar yang terbuat dari serabut kelapa.

Karena banyak digunakan itulah, tali rafia jelas punya nilai ekonomis yang tinggi. Namun, kalau kita telisik lebih jauh, tali rafia ini juga tergolong produk ramah lingkungan. Sebab, saat ini di pasaran ada tali rafia yang terbuat dari limbah plastik sisa pabrik atau limbah plastik sisa rumah tangga.
Tak percaya? Lihat saja yang dilakukan Lukas Subagio, pemilik usaha Mangun Wijaya Plastik asal Sidoarjo, Jawa Timur. Sejak 2002 silam, ia telah mendaur ulang limbah plastik itu untuk dijadikan tali rafia.

Lukas menjual tali rafia dari limbah itu dalam bentuk gelondongan. Biasanya, setelah sampai di tangan distributor, tali rafia dalam gulungan besar itu kemudian dikemas ke bentuk gulungan yang lebih kecil sebelum dilempar ke agen atau ke konsumen. “Mereka menjual kembali tali rafia itu dalam ukuran yang lebih kecil,” terang Lukas.

Tali rafia buatan Lukas itu tidak hanya dijual di sekitar Jawa Timur saja. Namun, sebagian besar lainnya telah menggelinding hingga ke Samarinda, Banjarmasin, Makassar, dan sampai Jayapura, Papua.

Namun, sebenarnya Lukas tidak menjual tali rafia dalam bentuk gulungan, namun kiloan. Harga tali rafia itu dibanderol mulai Rp 6.500 per kilogram (kg) hingga 13.500 per kg, tergantung kualitas.
Lukas menjelaskan, tali rafia berkualitas bagus produksinya bercirikan lembut, tipis, namun tetap kuat. “Kualitas menentukan harga jual,” terang Lukas.

Sedangkan tali rafia berkualitas sedang biasanya berwarna-warni, tebal, dan tidak mengilat. Adapun tali rafia berkualitas rendah memiliki ciri sama dengan tali rafia kualitas sedang, namun bedanya tali rafia kualitas rendah tidak memiliki variasi warna.

Karena berbahan baku dari limbah plastik, jelas Lukas, ia tak pernah kesulitan bahan baku. Ia secara rutin mendapat pasokan limbah plastik dari pengepul plastik bekas dari Surabaya.
Dari tangan pengepul, Lukas membeli limbah plastik itu seharga Rp 2.300–Rp 4.000 per kg, tergantung dari jenis plastik.

Menurut Lukas, plastik bekas terbaik untuk bahan baku tali rafia itu adalah limbah gelas plastik. Adapun limbah plastik kerupuk, plastik kapas, atau plastik bekas karung beras kualitasnya berada di bawah limbah plastik gelas.

Namun, Lukas ogah membeli limbah plastik yang dipulung dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Ia bilang, limbah plastik asal TPA memiliki aroma yang menyengat yang bisa mempengaruhi kualitas tali rafia.

Dalam memproduksi tali rafia dari limbah plastik itu, setidaknya butuh beberapa tahapan. Tahapan penting adalah pembuatan biji plastik dari campuran limbah plastik dengan polietilena (PE). Setelah itu baru tahapan pemanasan dengan oven kemudian proses cetak dengan mesin.

Lukas saat ini mampu memproduksi 2.400 kg tali rafia per hari. Seluruh produksi ia salurkan ke distributor dan agen. Dengan patokan harga Rp 6.500 per kg, Lukas setidaknya mengantongi omzet Rp 15,6 juta per hari atau Rp 468 juta per bulan.

Menurut Lukas, bisnis tali rafia tidak hanya menguntungkan dirinya saja, tetapi juga kepada pengepul limbah plastik, juga distributor, dan pedagang tali rafia. “Termasuk keuntungan untuk lingkungan,” terang Lukas.­ Ia memberi contoh, seorang agen tali rafia saja bisa mendapatkan laba Rp 1.000 dari penjualan satu kilogram tali rafia.

Pelaku bisnis lain yang mengolah limbah plastik menjadi tali rafia adalah Putranto, pemilik CV Dian Selaras di Tangerang, Banten. Sejak 2010 lalu, Putranto melihat adanya peluang bisnis tali rafia berbahan limbah plastik itu.

Dengan mengusung merek Cap Gajah, laki-laki yang kerap disapa Anton itu memiliki dua mesin produksi tali rafia masing-masing berkapasitas produksi sebanyak 6.000 kg per bulan. Sebagian besar produk tali rafia itu dijual Anton di Jakarta dan sebagian lainnya di Jawa. “Distribusi masih terbatas,” kata pria berusia 30 tahun itu.

Sama dengan Lukas, Anton juga tidak mengalami kesulitan untuk mencari bahan baku limbah plastik. Ia mendapatkan limbah plastik dari pengumpul limbah plastik di Tangerang. “Kesulitan ada pada kualitas limbah plastik yang ada di bawah kebutuhan standar,” katanya.

Namun begitu, ia berusaha untuk memaksimalkan sampah plastik yang berada di bawah kualitas standar itu. Dari kapasitas produksi 12.000 kg, Anton baru bisa produksi sebanyak 2.400 kg per bulan. “Pasar saya masih terbatas,” terang Anton.

Soal harga, Anton menjual tali rafia itu seharga Rp 8.500 per kg. Dalam sebulan Anton merengkuh omzet Rp 20 juta per bulan. “Margin keuntungan dari usaha ini cukup menarik, bisa 30% dari omzet,” ungkap Anton.

Sayang, Anton tidak bisa maksimal menjalankan bisnis karena jenis produknya masih sedikit. Namun, belakangan ini, ia sedang mempersiapkan jenis tali plastik spesifik untuk menjangkau segmen pasar tertentu. “Saya masih mempersiapkannya, karena tidak mudah untuk bersaing di Jakarta,” kata pria yang juga karyawan di salah satu perusahaan swasta itu.



Semakin erat ikatan tali, semakin lezat keuntungannya

Tali rafia memang hanya seutas tali untuk mengikat. Tapi, jangan salah, keuntungan yang diperoleh dari bisnis ini bisa berlipat. Proses produksi tali rafia juga cukup mudah. Bahan baku yang digunakan juga cukup mudah didapatkan.

Hampir setiap industri membutuhkan tali rafia untuk mengemas. Karena itu, bisnis pembuatan tali rafia selalu kebanjiran permintaan. Maklum, tidak hanya satu atau dua bidang bisnis yang menjadi pasar incaran dari para produsen tali rafia. Konsumennya juga dari pengguna rumahan sampai pengusaha pabrik.

Jumlah pengguna tali rafia yang cukup besar ini membuat nilai jual tali rafia masih tetap terjaga. Selain itu, beberapa produsen tali rafia juga meraup keuntungan. UD Nirwana Plastik, salah satu produsen tali rafia di Bogor, Jawa Barat, misalnya, mampu menghasilkan 20 ton tali setiap bulan.

Harga jual tali rafia antara Rp 7.500–Rp 8.500 per kilogram (kg), tergantung dari warna tali rafia tersebut. Sebagai contoh, harga tali rafia warna hitam Rp 7.500 per kg dan tali rafia warna lain Rp 8.500 per kg. Warna hitam jauh lebih murah lantaran tidak membutuhkan pewarna plastik.

Dewi Lestari, bagian pemasaran UD Nirwana Plastik, menjelaskan, karena harga lebih murah, permintaan tali rafia warna hitam jauh lebih banyak dari tali warna lain. “Penjualan tali rafia hitam mencapai 60% dari total penjualan, selebihnya warna lain,” tuturnya. Hitung punya hitung, total penjualan produsen ini bisa mencapai Rp 158 juta per bulan.

Kondisi serupa juga dialami oleh UD Dewi Sri yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Penjualan tali rafia bisa mencapai 10 ton–15 ton per bulan. Harga jual produknya tidak jauh berbeda dengan Nirwana, yaitu di kisaran Rp 7.000–Rp 8.000 per kg, bergantung pada kualitas dan warna. “Harga jual tali rafia warna memang jauh lebih mahal,” tutur Setyo Sugianto, pemilik UD Dewi Sri. Tak heran, Setyo mengaku mengantongi omzet lumayan besar, rata-rata bisa Rp 100 juta–Rp 150 juta per bulan.

Marini, Manajer Pemasaran dan Produksi Sapta Sarana di Blitar, Jawa Timur, juga mengaku mendapatkan order yang cukup besar. Menurut dia, penjualan bisa mencapai 4 ton per bulan. Harga jual mulai Rp 7.650–Rp 8.000 per kg. Omzet yang mampu diraup Sapta Sarana bisa mencapai Rp 31 juta per bulan. “Bahan warnanya membuat harga tali rafia warna jauh lebih mahal,” papar Marini.


Pasar Tali Rafia Luas

Para produsen tali rafia ini mengaku rata-rata menjual produknya ke distributor atau agen. Ada juga yang dibeli pabrik untuk pengemasan. Marini menjelaskan, rata-rata pembelinya adalah penjual telur. Maklum di Blitar, banyak penjual telur. Selain pemakai langsung, ada juga beberapa agen yang menjual tali rafia.
Penjualan tali rafia biasanya sistem gelondongan. Selanjutnya, distributor menjual secara ritel. Hanya sedikit produsen yang menjual ritel dengan kemasan kecil. “Penjualan dalam gulungan kecil-kecil seperti itu hanya untuk menambah pendapatan saja tapi itu pun tidak besar,” kata Setyo. 

Kalaupun menjual dengan gulungan kecil-kecil, produsen biasanya langsung memasok ke pasar, bukan barang pesanan. Sebab, untuk mengemas tali rafia dalam bentuk gulungan kecil, butuh waktu dan tenaga. Karena itu, rata-rata produsen tali rafia melemparnya kembali ke distributor untuk menggulung dengan ukuran kecil.

Para produsen tali rafia menyatakan, permintaan tali rafia sudah mulai banyak berdatangan dari luar Jawa. Setyo memiliki konsumen dari Kalimantan dan Lombok. Nirwana Plastik juga sering mendapatkan permintaan dari Lampung, Palu, dan Palembang. Hanya saja, permintaan rutin paling banyak dari Jabotabek. Maklum, lokasi ini memang dekat dengan proses produksi.

Selain omzet yang cukup menggiurkan, keuntungan bersih yang mampu diperoleh juga lumayan. Rata-rata produsen mampu mengantongi margin bersih sekitar 20%–25%.


• Modal awal
Memulai bisnis ini sebenarnya cukup mudah. Anda tidak membutuhkan keahlian khusus. Sebab, peralatan yang wajib Anda miliki sudah bisa mengerjakan secara otomatis. Anda hanya membutuhkan beberapa karyawan untuk mengoperasikan mesin.

Ada dua tipe pembuatan tali rafia. Pertama, mulai mengolah biji plastik kemudian dijadikan tali rafia. Kedua, ada yang membeli biji plastik kemudian diolah menjadi tali rafia. Dua pola ini menentukan modal yang Anda butuhkan.

Produksi tali rafia yang mengolah sampah plastik menjadi biji plastik membutuhkan modal lebih besar. Maklum, mesin yang dibutuhkan juga lebih banyak. Nirwana Plastik mengaku membutuhkan tiga jenis mesin utama: mesin penghancur plastik, mesin pembuat biji plastik, dan mesin pembuat tali rafia.

Jelas, kalau harus membeli tiga mesin ini, modal yang harus disediakan cukup besar. Harga mesin penghancur plastik bisa sekitar Rp 10 juta. Adapun mesin pembuat biji plastik (pelet) sekitar Rp 25 juta per unit. Nah, harga mesin pembuat tali rafia sendiri sekitar Rp 60 juta–Rp 80 juta. “Tergantung kondisi mesinnya,” ujar Setyo.

Dalam sehari, satu mesin ini sebenarnya bisa menghasilkan 500 kg tali rafia. Syaratnya, karyawan bekerja dalam dua sif sehari, yaitu mulai jam 07.00 sampai 19.00, dilanjutkan dari 19.00 hingga 07.00. Tapi, rata-rata produsen menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan. Artinya, mereka tidak selalu memaksimalkan kapasitas produksinya.

Kebutuhan lain yang perlu disiapkan berupa timbangan barang. Jika harus membuat biji plastik sendiri, Anda juga perlu menyiapkan blower pengering bahan baku. Total kebutuhan modal jenis usaha tali rafia dengan menghasilkan biji plastik diperkirakan sebesar Rp 150 juta, sudah termasuk pembelian bahan baku di awal usaha senilai Rp 30 juta.

Jika ingin lebih menghemat modal, Anda bisa memilih usaha tali rafia tanpa harus membuat biji plastik. Modalnya sekitar Rp 100 juta, sudah termasuk termasuk membeli bahan baku awal dengan nilai sekitar Rp 30 juta.

Sebaliknya, modal menjadi lebih besar lagi jika Anda ingin memproduksi tali rafia dalam gulungan kecil. Sebab, Anda mesti membeli mesin gulung rafia ukuran kecil seharga Rp 3,5 juta–Rp 6 juta per unit.


• Proses pembuatan

Cara membuat tali rafia sebenarnya hanyalah mengolah biji plastik dalam sebuah mesin sehingga menghasilkan tali rafia. Jika Anda memulai dari pembuatan biji plastik, Anda harus mencacah sampah plastik berupa botol plastik, atau sampah plastik yang lain. Hasil cacahan masuk ke mesin pemeletan yang akan menghasilkan biji plastik.

Biji plastik yang sudah dalam kondisi kering lantas diproses dan dimasukkan ke mesin pembuatan tali rafia. Mesin akan mengolah secara otomatis dari biji plastik menjadi tali rafia. “Di mesin tersebut ada sistem pemanasan yang membuat biji plastik menjadi lembaran tali,” kata Setyo.


• Karyawan

Jumlah karyawan yang dibutuhkan dalam pembuatan tali rafia ini tidak banyak. Jika memulai dari mengolah biji plastik, menurut Setyo, Anda cukup mempekerjakan dua hingga tiga karyawan. “Dua orang memegang mesin cetak rafia dan mesin penggulung rafia,” kata dia. Seorang lagi di bagian pengemasan. Tapi, jumlah karyawan bisa bertambah jika kapasitas produksi terus meningkat. Selain menerapkan sistem shif, bisa saja Anda menambah mesin produksi.

Sistem pembayaran karyawan bisa menggunakan sistem borongan atau harian. Setyo misalnya, membayar karyawan dengan sistem harian, yaitu Rp 45.000 per hari. Atau berdasarkan volume seperti Marini di Blitar yang membayar pegawai Rp 175 per kg. Kalau Dewi, membayar Rp 500 per kg.



MENGUBAH SAMPAH PLASTIK MENJADI RUPIAH
http://www.pustakadunia.com/kumpulan-artikel-umum/mengubah-sambaph-plastik-jadi-rupiah/

Sampah merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Jumlah sampah yang ada semakin menggunung dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin sempit karena sudah melewati batas penampungan. Berbagai macam metode sudah digunakan untuk menangani masalah ini, tetapi tetap saja tidak terselesaikan. Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan plastik meningkat. Konsekuensinya sampah plastik yang dihasilkan juga meningkat. Ditambah sifat plastik yang tidak dapat membusuk,tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air dan tidak dapat berkarat sehingga pada akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan.
Pernahkan terlintas dalam pikiran bahwa diantara tumpukan sampah ini berprospek menghasilkan pundi-pundi rupiah. Produksi sampah yang tinggi menyebabkan bisnis berbahan dasar sampah tidak pernah kehabisan bahan bakunya. Keunggulan lain dari usaha ini adalah bahan bakunya murah sehingga sangat berpengaruh pada harga hasil akhir produk daur ulang kita. Nah meskipun barang yang diolah merupakan barang sisa / buangan usaha daur ulang sampah plastik merupakan peluang usaha yang tidak bisa dianggap remeh, disamping mendukung program pemerintah mengenai pengolahan sampah.
PENGELOMPOKAN SAMPAH PLASTIK
Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yakni:
  1. plastik yang bersifat thermoplastic, yaitu dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain dan
  2. plastik yang bersifat thermoset, bila telah dipakai tidak dapat digunakan kembali.

Pada umumnya plastik untuk daur ulang diolah kembali menjadi barang semula. Beberapa jenis plastik harus dicampur dengan bahan baku untuk meningkatkan kualitasnya.
Jenis sampah plastik yang laku dipasaran adalah :
  1. Polietilena (PE) : bahan plastik yang tahan air, asam alkali dan hampir semua jenis cairan. Contohnya plastik pembungkus produk makanan dan minuman tirai plastik, botol antipecah, penyekat kawat atau kabel.
  2. High Density Polyethylene (HDPE) : Jenis ini juga resisten terhadap zat cair. Contohnya melamin (piring & gelas) berbagai macam kemasan plastik, tangki bahan bakar kendaraan, kantong plastik, tempat makan plastik dan pipa air.
  3. Polipropilenia (PP) : produk yang terbuat dari fiber glass.

Pada umumnya sampah-sampah plastik ini diperoleh dari tempat penampungan sampah. Oleh para pemulung sampah-sampah plastik ini dikumpulkan kemudian dipisah-pisahkan berdasarkan bentuk dan jenisnya, lebih lanjut sampah disetorkan ke pengusaha-pengusaha pengolahan sampah plastik.
Secara umum agar sampah plastik dapat diolah oleh sebuah industri diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
  1. Bentuk sampah plastik disesuaikan dengan kebutuhan industri, misalnya : bentuk biji untuk industri yang memproduksi alat-alat tulis. Bentuk pellet, serbuk atau pecahan untukindustri yang memerlukan kemasan plastik dan memproduksi barang-barang dari plastik.
  2. Sampah plastik sudah homogen / tidak tercampur dengan sampah jenis lain.
  3. Tidak terkontaminasi dengan zat-zat kimia yang dapat menurunkan kualitas produk yang dihasilkan.
  4. Diusahakan tidak teroksidasi, yaitu sampah masih dalam keadaan layak produksi dan tidak mengandung zat-zat kimia berbahaya.
Sedangkan tahapan-tahapan pendaur ulangan sampah plastik, menjadi biji plastik (bahan baku setengah jadi) adalah sebagai berikut :
  1. Pemisahan, sampah plastik dipisahkan dari sampah jenis lain mis kertas dsb.
  2. Pemotongan, sampah plastik kemudian dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan. Misalnya jika akan diolah menjadi biji plastik, sampah harus dipotong kecil-kecil untuk memudahkan proses pengolahan.
  3. Pencucian, sampah yahg sudah dipotong dicuci bersih untuk menghilangkan zat-zat lain yang dapat mengganggu proses pengolahan.
  4. Penggilingan, sampah yang sudah bersih digiling agar menjadi biji plastik. Kualitas biji yang baik dapat diliat dari mengapung tidaknya biji plastik tersebut diatas air.
  5. Selanjutnya biji plastik yang telah diolah inilah yang selanjutnya diolah menjadi produk-produk plastik lainnya.

Bisnis Limbah, Sungguhkah Menjanjikan?

http://green.kompasiana.com/polusi/2012/03/19/bisnis-limbah-sungguhkah-menjanjikan-443420.html

Maria G Soemitro


13321452461696362169
tukang sampah, salah satu ujung tombak pengumpul sampah anorganik

“Pilah dan Olah Sampah Jadi Rupiah” slogan yang diusung pemerintah kota Pekalongan dalam menjaga dan memelihara kebersihan kota. Tapi apakah sesederhana itu?

Peserta program lingkungan hidup di kota Bandung bahkan mendapat iming-iming akan mendapat bantuan perbankan apabila mampu menyukseskan program Bank Sampah. 

Padahal apabila mau dikaji lebih dalam bukankah tujuan dilaksanakannya program lingkungan hidup adalah untuk meminimalisir sampah? Jangan-jangan sebagai nasabah Bank Sampah warga malah berusaha meningkatkan saldonya dengan perilaku boros sampah.

Karena program Bank Sampah dan Pengelolaan Sampah Anorganik “berbeda jurusan” dengan pelestari lingkungan hidup. Ranahnya berbeda, kerangka berpikir berbeda, departemen yang mengurus berbeda, sehingga hasil akhirnyapun berbeda pula. Perbedaan tersebut dapat diperjelas dengan membagi kedua “jurusan” tersebut:

1. Pelaku program Bank Sampah dan Pengelola Sampah Anorganik di ranah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

Sayangnya, tidak ada istilah “Bank Sampah” dan “Daur ulang Sampah Anorganik” dalam UMKM. Yang ada adalah bisnis rongsokan dan bisnis pengolah sampah plastik/kaleng/kertas menjadi bahan baku baru berkualitas rendah.

Berapa omzet seorang pengepul rongsokan? Bisa mencapai ratusan juta rupiah pertahun. Untuk memperlancar usaha, biasanya seorang pengepul membawahi puluhan tukang rongsok yang diberi fasilitas tinggal di satu atau dua rumah kontrakan. Para tukang rongsok yang harus berkeliling di area pemukiman ini umumnya urban ke kota karena menunggu musim panen/musim tanam.

Bagaimana dengan bisnis daurulang sampah anorganik seperti kaleng, plastik dan kardus? Sama juga. Keuntungannya sangat menjanjikan. Bahkan seorang pelaku bisnis pengolah limbah plastik di Bandung Selatan mampu memiliki armada truk untuk mengangkut rongsokan dari para pengepul rongsokan. Banyaknya pelaku bisnis rongsokan menciptakan hubungan simbiosis mutualisme. Sama-sama untung, pengepul rongsokan tidak harus mengeluarkan biaya transportasi untuk mengangkut rongsokan. Pelaku bisnis daurulang sekaligus pemilik trukpun bisa tenang karena adanya kepastian pasokan bahan baku.

Pebisnis kelas kakap yang mampu membeli beberapa buah truk memang tidak sekedar mempunyai pabrik pengolah sampah plastik menjadi biji plastik. Tetapi umumnya dia juga memasok bahan baku limbah kaleng, besi dan kertas ke pabrik daurulang di kota lain. Mungkin akhir-akhir ini anda membeli produk elektronik? Untuk merk tertentu bahan pengganjal produk elektronik bukan lagi styrofoam tetapi hasil daurulang kardus bekas.

Apakah pelaku rongsokan dan produsen pengolah sampah anorganik tersebut masuk ranah lingkungan hidup? Jelas tidak. Cara pandang mereka sangat berbeda dengan pegiat lingkungan hidup. Gaya hidup merekapun bertolak belakang dengan gaya hidup organis yang  wajib dilakoni praktisi lingkungan hidup. Karena itu, jangan heran apabila disekitar kantor/pabrik rongsokan banyak terdapat sampah. Beragam sampah: sampah organik dan sampah anorganik.

Contoh sederhana adalah tukang sampah yang mengangkut sampah dari rumah ke rumah. Jangan berharap area rumah si tukang sampah senantiasa bersih dari sampah. Karena dia mengumpulkan sampah demi mendapatkan upah sedangkan rumah pribadinya penuh sampah dia tidak akan peduli.

13321452191001605436
Bank Sampah di Surabaya (dok. Sandi Bayu Perwira)

Seorang pelaku bisnis rongsokan harus bertujuan menghasilkan profit sebanyak mungkin. Dia tidak mau bercapek-ria mencatat detail jenis sampah anorganik seperti yang dilakukan pengelola bank sampah. Bahkan apabila perlu dia “ngaborong”beragam sampah yang ditawarkan padanya. Praktis dan tidak membuang waktu. Prinsip mereka: “Waktu adalah uang”. Disekelilingnya berserakan sampah dia tidak akan peduli karena sampah yang tersisa tersebut  euweuh duitna (tidak bernilai materi).

Demikian pula pelaku bisnis daur ulang sampah plastik.  Dia harus menargetkan pasokan bahan baku agar usaha pengolahan plastik bekas menjadi biji plastik berjalan lancar. Dia bahkan tidak mau repot mencatat tiap jenis plastik karena sekali pegang atau lihat, dia akan tahu jenis plastik apakah itu. PETE?  HDPE, PP atau LDPE?  Yang harus dilakukannya adalah efisiensi waktu dan keefektifan gerak. Berapa jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan mampu dibiayai, semua harus dihitung dengan seksama. Para tenaga kerja itulah yang nantinya memilih berdasarkan jenis dan warna plastik, memasukkan mesin pencacah, mesin pelebur plastik dan mesin pembuat biji plastik. Contoh sampah plastik diambil penulis karena selama ini dituding menjadi pembuat masalah dibanding sampah anorganik lainnya.

1332141392140394073
pemulung, ujung tombak UKM sampah anorganik

2. Pelaku program Bank Sampah dan Pengelola Sampah Anorganik di ranah Lingkungan Hidup

Berbeda dengan UMKM, pelaku pelestari  lingkungan hidup mempunyai tujuan aksi nonmateri. Mereka bertujuan menjadikan lingkungan hidupnya nyaman dengan mengelola sampah. Salah satu bentuk kegiatan mereka adalah “Bank Sampah” dan”Kerajinan Daurulang sampah”. Membuang waktu menjadi  tidak masalah karena lingkungan rumahnya menjadi bersih, asri dan pikabetaheun (nyaman).Target nonmateri ini membuat pengelola bank sampah tidak dapat menargetkan pemasukan  sesuai cash-flow agar kegiatan berjalan lancar.

Bank sampah juga membutuhkan “tokoh” dalam operasionalnya. Sang tokohlah yang memobilisir nasabah bank sampah agar jangan lupa menyetor sampah anorganik. Sungguh berbeda dengan bank konvensional. Bank konvensionalmengedepankan produk jasa dan pelayanannya. Nasabah akan berduyun-duyun datang apabila produk jasa dan pelayanan suatu bank konvensional  menyenangkan . 

Sedangkan bank sampah akan terancam keberlangsungan operasionalnya apabila si tokoh mengundurkan diri atau meninggal dunia. 

Karena itu apabila pihak perbankan tertarik pada kegiatan bank sampah, maka akan lebih bijak memberikan charity (sumbangan) daripada pinjaman. Khusus di kota besar, niatan untuk membentuk bank sampah sebaiknya dikesampingkan dulu. 

Targetkan membuat lingkaran hijau komunitas dimana hasilnya langsung terasa. Terlebih tukang rongsokan rajin keluar masuk kompleks perumahan, panggil saja untuk membereskan sampah anorganik yang bertumpuk. (Bank Sampah, Paradigma Salah Kaprah)

Hasil yang lebih mengecewakan dialami pelaku kerajinan bekas kemasan plastik. 

Pengumpulan bahan baku yang sulit, biaya, tenaga  serta waktu yang dihabiskan ternyata tidak diimbangi dengan inkam memadai.  Barang sulit dijual padahal proses pembuatannya sama rumitnya dengan proses pengumpulan bahan baku. Diperlukan  banyak pengorbanan yang tidak masuk kalkulasi pelaku kerajinan. Sehingga tidak berlebihan apabila penulis mengategorikan pekerjaan ini sebagai aksi sosial.

Sayangnya penikmat hasil kerja sosial mereka adalah perusahaan pembuat produk yang menggunakan kemasan untuk menyimpan dan membawa produk dari satu tempat ke tempat lainnya. Kemasan plastik memang didisain bewarna-warni “ngejreng” dengan tujuan memikat pembeli. Bukan untuk menggerakkan minat pembuat produk daurulang kemasan agar mengumpulkan dan memprosesnya hingga menjadi produk baru seperti tas, tikar dan sajadah.

Sayangnya lagi telah terjadi pembiaran pelanggaran pasal 15 Undang-Undang nomor 18 tahun 2008, yaitu : “Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam”.

Limbah kemasan plastik jelas memenuhi kriteria pasal 15. Kelalaian produsen memenuhi kewajibannya mengakibatkan masalah lanjutan. Yaitu sampah di buang ke tanah, sungai atau dibakar. Sampah plastik yang dibuang begitu saja akan sulit terurai oleh alam sedangkan pembakaran  sampah menimbulkan asap beracun .

Sampah plastik bekas kemasan dan keresek (kantung plastik) sebetulnya bisa didaurulang menjadi biji plastik. Tapi harganya sangat murah karena biji plastik yang dihasilkan adalah kualitas terendah. Bahan baku keresek hitam. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku umumnya pabrik biji plastik menerima pasokan Tempat Pembuangan sampah Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA).

Harga pasar yang sangat rendah pulalah yang menyebabkan pengepul enggan menampung sampah kemasan plastik dan keresek. Sehingga jangan heran melihat  tukang rongsok dan pemulung tidak menggubris keberadaan sampah kemasan dan keresek. Sebanyak apapun.

Selain kemasan plastik biasa, beberapa produsen menggunakan kemasan plastik berlapis aluminium untuk menjaga kualitas produknya contohnya kopi, cemilan dan deterjen. Tetapi bagai boomerang, limbah kemasan plastik berlapis aluminium ini sulit terurai oleh alam. 

Produsen daur ulang plastik angkat tangan. Karena biaya pengolahannya besar sekali. Tidak sebanding dengan hasil penjualan biji plastik

Satu-satunya yang masih mempedulikan adalah pengrajin daur ulang. Mereka mengumpulkan dari rumah tangga dan warung, bukan dari tempat sampah. Sehingga hasil kerja mereka penulis kategorikan sebagai kerajinan daur ulang bekas kemasan bukan kerajinan sampah.

Untuk memenuhi kebutuhan jumlah dan warna bahan baku, pengrajin daurulang juga harus merogoh kocek. Mereka bersedia membayar cangkang kopi (limbah kemasan kopi) Rp 25/lembar. Mereka membutuhkan minimal seratus lebihcangkang kopi untuk membuat dompet kecil.  Tapi apa lacur? Sulit sekali memasarkan produk-produk kerajinan plastik ini.

1332142679749507930
hasil kerajinan bekas kemasan plastik

Harapan yang tersisa adalah  bantuan pemerintah untuk menjembatani permasalahan. Agar pihak-pihak terkait bisa mencari solusi terbaik. Pemerintah dapat dan harus membantu dalam hal regulasi. Produsen dengan program CSRnya bisa membantu memasarkan, memberi pengarahan disain produk dan  pemberian modal bergulir. Karena para pengrajin daur ulang sampah plastik umumnya berasal dari golongan menengah kebawah.
Mereka telah mengambil alih kewajiban produsen tetapi hasil kerja kerasnya diabaikan. Bahkan mungkin produsen berfikir telah memberi lapangan kerja bagi para pengrajin. Tanpa mengetahui fakta bahwa hasil kerajinan tidak selalu terjual di pameran yang hanya dilaksanakan beberapa bulan sekali. Beberapa dari mereka nekad berjualan di pasar kaget setiap hari Minggu. Berbaur dengan pedagang kaki lima (PKL).

Mereka hanya berfikir soal mendapatkan rupiah dengan cara halal. Mereka hanya berpikir soal harapan. Walau hasil kerjanya tidak mencukupi kebutuhan hidup, mereka selalu bersemangat. Itulah sebagian kecil potret wajah anak bangsa.

**Maria Hardayanto**

Thursday, October 9, 2014

Tiesto at the Fountain of Bellagio

Jim O'Neill on MINT countries

O’Neill, Man Who Coined ‘BRICs,’ Still Likes BRICs, But Likes MINTs, Too

http://blogs.wsj.com/moneybeat/2013/12/09/oneill-man-who-coined-brics-still-likes-brics-but-likes-mints-too/
By Luciana Magalhaes and Matthew Cowley
Dec 9, 2013

Jim O’Neill, former Goldman Sachs chief economist -
 
Bloomberg News

SÃO PAULO–The creator of the BRIC acronym says he hasn’t always been an optimist, but right now his enthusiasm for the global economy is running sky-high.

“During the 1990s I was bearish about the world because I was very worried about the U.S. current account,” Jim O’Neill said in a telephone interview on Friday.
That changed in the 2000s, when he first coined the BRIC acronym, and this decade is also looking bright, he says. “In some respects it is all about the U.S. and China swapping places, and it’s happening,” says Mr. O’Neill.
Manufacturing in the U.S. is starting to recover, while China is exporting less and driving up domestic demand. That makes for a healthier balance in the global economy.
“Compared to most people I speak to I seem to be still a lot more optimistic but it is a fallacy that I’ve always been optimistic.”
The former chief economist at Goldman Sachs — who left the bank earlier this year — is now taking a look beyond the BRICs to another set of countries likely to shine. That was for a series for BBC Radio about four emerging economies that could rise into the ranks of the top 10 global economies by 2050.
The anointed ones are Mexico, Indonesia, Nigeria and Turkey, or MINT: their uniting themes are favorable demographics and attractive economic prospects.
Yet they will never live up to the BRICs, he says, which will always remain much larger. In two years China alone creates more new wealth than the entire MINT gross domestic product combined. The largest economies in the MINTs are Mexico and Turkey, neither of which are expected to achieve China-like rates of growth, so the average is skewed. Nigeria, the smallest country in the group, is the one with most potential.
Curiously, however, the MINTs may have more in common with each other than the BRICs. While Brazil, Russia, India and China have gone to great ends to come up with a coordinated plan of action at global forums such as the G-20, there are always gaping differences. At last week’s World Trade Organization talks in Bali, India objected to a global trade pact supported by the other three nations.
“Mexico, Indonesia and Turkey all share very multi-dimensional trade patterns,” said Mr. O’Neill.  People he spoke to in the MINT countries believe there is more natural affinity among MINTs than BRICs, he said.
The economist projects the BRICs will grow an average for 6.6% in the decade from 2011 to 2020, but that’s almost entirely down to China. He’s jokes that if he had to modify the BRICs at all, it would become the “C” —  the only country that’s surpassed his expectations.
He’s very optimistic about the Chinese government’s efforts to move toward better quality growth at the expense of quantity. As a result, the pace of growth in China’s economy has come down somewhat, prompting concerns about the impact on the global economy. Mr. O’Neill says that China growing at a pace of around 7.5% is equivalent to the U.S. growing at 4% per year.
“People still don’t fully appreciate that,” Mr. O’Neill said.
There have been plenty of negative headlines on Brazil, Russia and India in the last few years. But that’s also been overblown, according to the banker. “If those countries show any vague acceleration, it is probably going to surprise people,” he said.
In the case of Brazil, the economist said he won’t be surprised if Brazil grows between 2.5% and 4.5% or 5%, next year. Quite a jump from 2012, when Brazil’s gross domestic product increased a revised 1.5%, still well below initial government projections of 4.5%. Economists in Brazil see growth of around 2.1% next year, according to the central bank’s latest weekly survey.
Mr. O’Neill says Brazil needs to adopt stronger supply side reforms and expects a pick-up in private investment in 2014 to drive a faster pace of growth.
As for China, the economist predicts GDP will probably grow between 7.5 to 8% in 2014.

The Economist Who Invented The BRICs Just Invented A Whole New Group Of Countries: The MINTs

http://www.businessinsider.com/jim-oneill-presents-the-mint-economies-2013-11?IR=T&

MATTHEW BOESLER
  • NOV. 13, 2013
  • jim o'neill

Former Goldman Sachs economist Jim O'Neill is the one who popularized the term "BRICs" in reference to the group of emerging-market economies made up of Brazil, Russia, India, and China.
This year, however, the fortunes of those economies have taken a turn for the worse for various reasons, and many investors are abandoning the idea that they will be able to continue the rapid growth that has characterized the past several years.
Much investor attention has therefore shifted from emerging markets to "frontier markets," a classification made up of economies smaller than those of the BRICs.
In a new column for Bloomberg View, O'Neill presents a new potential investment destination: the "MINT" economies (emphasis added):
I spent last week in Indonesia, working on a series for BBC Radio about four of the world’s most populous non-BRIC emerging economies. The BRIC countries -- Brazil, Russia, India and China -- are already closely watched. The group I’m studying for this project -- let’s call them the MINT economies -- deserve no less attention. Mexico, Indonesia, Nigeria and Turkey all have very favorable demographics for at least the next 20 years, and their economic prospects are interesting.
Policy makers and thinkers in the MINT countries have often asked me why I left them out of that first classification. Indonesians made the point with particular force. Over the years I’ve become accustomed to being told that the BRIC countries should have been the BRIICs all along, or maybe even the BIICs. Wasn’t Indonesia’s economic potential more compelling than Russia’s? Despite the size of its relatively young population (a tremendous asset), I thought it unlikely that Indonesia would do enough on the economic-policy front to quickly realize that potential.
"Now, meeting a diverse group of Indonesians — from the leading candidates for the 2014 presidential elections to shoppers in Jakarta’s busy malls — I found a healthy preoccupation with the country’s economic prospects," writes O'Neill. "Could Indonesia do what’s needed to lift the country’s growth rate to 7 percent or more, they were asking, or would it have to settle for 'just' 5 percent?"
Fellow Bloomberg View columnist Matthew C. Klein points out on Twitter that Fidelity actually coined the term "MINT" in 2011:

Read O'Neill's whole column at Bloomberg View
, and expect to hear a lot more about the "MINTs" going forward.

Mint condition: countries tipped as the next economic powerhouses
http://www.theguardian.com/business/2014/jan/09/mint-condition-countries-tipped-economic-powerhouses
Forget the Brics and the Civets, Mexico, Indonesia, Nigeria and Turkey are the new kids on the bloc according to economists
First it was the Brics. For a while the Civets were in vogue. Now the Mints are the ones to watch. Confused? Well, once you know your acronyms it all becomes clear.
The Brics are Brazil, Russia, India and China – four emerging economies lumped together in 2001 by Jim O'Neill, then at Goldman Sachs, to show that western investors needed to take notice of what was happening in the post-cold war global economy.
Robert Ward, of the Economist Intelligence Unit, linked Colombia,Indonesia, Vietnam, Egypt and Turkey but the Civets never really took off. Now O'Neill is championing the Mints, a name first coined by the fund managers Fidelity, for what he thinks will be the second generation of emerging market pace-setters: Mexico, Indonesia, Nigeria andTurkey.
The Mints share some common features. They all have big and growing populations with plentiful supplies of young workers. That should help them grow fast when ageing and shrinking populations will lead inexorably to slower growth rates in many developed countries (and China) over the coming decades.
And they are nicely placed geographically to take advantage of large markets nearby, with Indonesia close to China, Turkey on the edge of the European Union and Mexico on America's doorstep.
Nigeria's geographical advantages are less immediately obvious, although it does have the potential to become the hub of Africa's economy at a time when the continent is enjoying a sustained period of strong expansion.
Strong growth in Asia has pushed up demand for the fuel and raw materials needed for industrialisation and three of the Mints – Mexico, Indonesia and Nigeria – are leading commodity producers. Of the four, only Nigeria is not already a member of the G20 group of developed and developing countries.
Even so, financial markets are wary about treating what is actually a disparate group of countries as a bloc. If the Brics are now a bit old hat, it is in part because their reputations are a little tarnished.

guardian.co.uk

Western investors who piled into Bric stock markets expecting to make a packet have had their fingers burned and in recent years would have done better keeping their money at home. Only China has really lived up to the growth hype and is now the world's second biggest economy.
But even then stock market performance has been weak and there are now concerns that attempts by Beijing to move to an economic model less dependent on credit will lead to a hard landing in 2014.
At one point India looked likely to rival China as the emerging market powerhouse but it had a wretched 2013, suffering from high inflation, a rising current account deficit and a run on the rupee.
Russia is seen as over-dependent on its oil and gas sector and unfriendly towards foreign investors; Brazil, like many other emerging economies, proved vulnerable to hot money flows.
Tanweer Akram, economist at ING Investment Management, notes that investors pulled back from several emerging markets last year and are likely to be discriminating in the future, reducing exposure to "countries that are vulnerable on the basis of current account deficit, inflation above target and muted growth".
Turkey and Indonesia are both countries where the bullish investor mood of a couple of years ago has been replaced by a more cautious approach. Of the two, Turkey is the more immediate concern, with the International Monetary Fund calling late last year for interest rates to be raised by 2.5 percentage points to tackle 8% inflation.
Nigeria is seen as more attractive in part because it has shown strong growth despite its long-term structural problems: power shortages, corruption and a poor education system.
The markets like the market-friendly reforms in Mexico and see it, rather than Brazil, as Latin America's best bet. Even so, Mexico's fortunes are closely linked to those of its powerful neighbour across the Rio Grande.
In one sense, the very notion of Brics and Mints is helpful. It illustrates the way in which the economic balance of power has shifted from the developed to the developing world over the past 20 years and will continue to do so over the next 20.
In Nigeria's case, it illustrates the possibility that the next "tiger" economies could well be in Africa.
But it is well to remember that the countries are only grouped together because they make a neat acronym. They are all different; the suggestion that they are not is Colombia, Oman, Burundi, Botswana, Laos, Egypt, Romania, Sudan.

7 Ciri-ciri Mereka yang Mempunyai Kecerdasan Emosional yang Tinggi

http://bagusberlian.com/7-ciri-ciri-mereka-yang-mempunyai-kecerdasan-emosional-yang-tinggi/

Bagus Berlian



Akhir-akhir ini, kita semakin sadar bahwa kecerdasan emosional ini sangat penting bagi tiap individu dalam menunjang kesuksesan dan kebahagiaan mereka, baik di tempat kerja, pergaulan hingga kehidupan keluarga. Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan membantu anda dalam bersikap praktis ketika di hadapkan pada suatu permasalahan. Untuk itu, kali ini saya akan sharingkan apa saja ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. Harapannya, hal ini akan menjadi referensi kita bersama untuk kehidupan kita yang lebih bermanfaat dan bahagia kedepannya.
1. Fokus pada Hal-hal yang Positif
Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sadar bahwa percuma saja berlarut-larut dengan masalah. Fokus pada masalah tidak akan pernah membawa solusi, sebaliknya bersikap positif dalam menyikapi masalah akan membawa anda pada solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan anda.
2. Mereka yang Berpikiran Positif akan Berkumpul dengan Mereka yang Berpikir Positif Pula
Orang-orang dengan kecerdasan emosional tinggi tidak akan menghabiskan banyak waktu dengan berkumpul bersama mereka yang suka mengeluh dan mengumpat. Mendengarkan keluh kesah dari mereka yang suka berpikir negatif hanya akan membawa menghabiskan energi kita pada hal yang percuma. Sebaliknya, berkumpul dengan orang yang memiliki pikiran positif dan penuh semangat akan membuat kita tertular juga. Dan inilah yang pada akhirnya akan meningkatkan kecerdasan emosional anda juga.
3. Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi selalu Assertive
Assertive adalah sebuah sikap tegas dalam mengemukakan suatu pendapat, tanpa harus melukai perasaan lawan bicaranya. Orang yang assertive sangat tahu betul kapan mereka harus bicara, kapan mereka harus mengemukakan suatu pendapat dan bagaimana cara yang tepat untuk memberikan sebuah solusi tanpa harus menggurui. Dan yang pasti mereka yang memiliki sikap assertive selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bicara.
4. Mereka adalah Visioner yang siap Melupakan Kegagalan di Masa Lalu
Orang-orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan sibuk memikirkan apa yang akan dilakukannya di masa depan dan segera melupakan kegagalan di masa lalu. Baginya kegagalan di masa lalu adalah sebuah pelajaran yang penting diambil untuk mengambil langkah yang lebih mantab di masa yang akan datang.
5. Mereka Tahu Cara Membuat Hidup Lebih Bahagia dan Bermakna
Dimanapun mereka berada, apakah itu di tempat kerja, di rumah ataupun berkumpul dengan teman-teman, orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan membawa kebahagiaan bagi sesamanya. Terkadang arti bahagia bagi mereka tidak harus sebuah kekayaan. Bersyukur akan nikmat yang didapat hari ini dan membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya akan membuat mereka merasa bahagia dan bermakna.
6. Mereka Tahu Bagaimana Mengeluarkan Energi Mereka secara Bijak
Mereka yang dikaruniai kecerdasan emosional tinggi, tahu bagaimana memanfaatkan energi mereka dengan bijak. Mereka tidak akan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang percuma saja. Mereka akan fokus pada tindakan-tindakan yang akan membawa manfaat bagi sesamanya.
7. Terus Belajar dan Berkembang
Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sadar, bahwa apa yang ia ketahui saat ini masih belumlah apa-apa. Baginya, belajar bukanlah 12 tahun wajib belajar dan 4 tahun kuliah. Wajib belajar adalah seumur hidup. Mereka selalu terbuka akan hal-hal baru dan berani mencoba berbagai macam tantangan yang akan membuat mereka berkembang. Kritik dan saran dari orang lain akan dijadikan sebagai referensi baru dalam mengambil langkah dan keputusan di masa yang akan datang.
“It isn’t stress that makes us fall – it;s how we respond to stressful events.” – Wayde Goodall